Tentang Kami, Tiga Manusia

Well, aku terhasut oleh seseorang untuk ikutan acara lomba-berlomba dengan tajuk “tak kenal maka tak sayang” ini. Bingung sih mo nulis apa karena banyak hal yang aku ingin tulis tentang kenal-perkenalan.

Di sini, di tulisan ini, aku akan memperkenalkan dua orang teman yang kurang-lebih sama denganku, berbagi tawa dan kisah di banyak hari bersamaku. Tulisan ini pun baru bisa menggambarkan sebagian dari seluruh hal yang aku ketahui tentang mereka berdua. Karena yang ku tahu, sepanjang kita berinteraksi dengan seseorang, sepanjang itu pula kita akan belajar untuk mengenalnya. Dan kisah yang [lumayan] panjang ini ternyata telah berawal lebih lama dari yang aku sadari.

Aku berkenalan secara resmi dengan Mesil [salah seorang dari mereka] kira-kira tiga tahun lalu, tepatnya di andaleb2. sebuah kosan berwarna merah marun yang terletak tepat di depan beberapa kuburan keluarga di kawasan kosan mahasiswa Institut Pertanian Bogor. Ya, kami terdampar di satu kosan yang sama. Perkenalan itu hanya berkisar nama lengkap-panggilan, departemen mana-angkatan berapa-asal-tempat tanggal lahir. Format standar sebuah perkenalan. Itupun karena sedang ada forum rapat kosan yang rutin diadakan tiap kali ada penghuni baru yang datang ke kosan. Dan parahnya, aku langsung lupa beberapa menit kemudian namanya siapa, apalagi keterangan yang lain. Haha.

Entahlah, apa sebenarnya yang membuat kami “dekat”.

Mungkin karena sama-sama bersuara toa [volume keras]. Dari sumatera, meski sebenernya aku asli jawa dan dia dari suku rejang [aku masih tak tahu menahu tentang suku rejang itu]. Suka komik. Suka pilem India. Suka sahut menyahut ketika ada yang menyanyikan lagu dangdut. Atau mungkin karena kami memang sama-sama suka “mengusili” makanan orang lain ketika sarapan-makan siang-makan malam.

Hal ini kemudian dilengkapi [atau diganjili?] oleh kedatangan Nailah di kosan kami. Kami kemudian dikenal sebagai trio lebay, trio perusak, trio toa, trio tukang bikin ribut, dan lain-lain.

Dan aku baru sadar ketika Mesil suatu ketika bercerita tentang masa-masa di asrama [tahun pertama di IPB mahasiswa diharuskan menghuni asrama] bahwa dia sudah mengenalku sejak di asrama. Setidaknya tahu wajah. Ceritanya begini:

Suatu ketika aku datang ke kamarnya untuk meminjam komik [kamarnya memang dikenal sebagai markas komik] dan aku sebenernya cuma bermodalkan senyum dan say “halo.. pinjem komik dong….” di kamarnya. Selonong girl banget ya? Hehe.. Dan kami memang berada di organisasi yang sama meski beda divisi, aku di GAMA [gerakan membangun nurani mahasiswa] dan mereka di divisi keputrian. Beda banget kan divisinya?

Banyak hal yang pernah kami lalui bersama, bercerita adalah hal yang bahkan kami sudah tak pernah mendefinisikan mana yang curhat dan mana yang hanya sekedar bercanda. Karena karakteristik dari kami bertiga adalah kami pelawak. Ya, kami sering kali [bahkan selalu] menjadikan cerita sedih atau traumatik menjadi lawakan. Ketika ada yang meneteskan air mata, kami pun tak pernah bisa berakting menjadi orang yang dewasa dan arif bijaksana. Kami menanggapinya dengan kacamata kami sendiri, karena kami tahu bahwa kami sama-sama tahu apa yang baik. Kami hanya saling mengingatkan [dengan cara kami sendiri]. Dan karena kami pun sama-sama tahu bahwa kami sama-sama aneh dan agak ancur, jadi menurut kami sepertinya tidak pantas jika masing-masing dari kami “berlagak dewasa”. Pun hal itu menjadi hal yang membuat kami merasa tidak digurui satu sama lain.

Entahlah…hal itu pun tak kami sadari, semuanya seperti berjalan seperti air yang mencari setiap celah yang ada untuk mengalir. Dan hal itu menjadi sebuah kebiasaan bahkan sebelum kami menyadarinya.

Ketika satu dari kami sedang mendekati jurang yang bernama “suka dengan lawan jenis”, hal itu pun menjadi topik yang hangat di antara kami bertiga. Bahkan mungkin tiap malam menjadi menit-menit yang selalu dihiasi dengan perbincangan itu. Kami bertiga tahu bahwa kami tidak boleh terseret oleh arus. Kami faham akan hal itu. Tapi toh hal itu diimbangi dengan kefahaman bahwa semua itu fitrah. Dan apa yang kami lakukan dalam menanggapi hal itu?

Well, kami selalu menertawakan perilaku orang yang sedang terkena virus itu. Mengejeknya, dan orang yang diejek pun akan membalas mengejek. bahkan tak jarang kami saling memukul dengan bantal, menoyor kepala masing-masing sambil berteriak “mikir dong…..udah tua luuhhh… ga pantes kayak gitu…”. Don’t try this at home!

Memang aku dan mereka sering kali melakukan hal-hal yang berbau “kekerasan” namun aktivitas itu mampu membuatku berfikir bahwa apa yang pernah kulakukan adalah hal yang salah dan membuatku malu terhadap mereka. Dan aku yakin mereka merasakan hal yang sama.

Beberapa waktu yang lain, sering kali pula kami terdampar di depan televisi hingga larut malam hanya untuk menonton program televisi favorit, mengomentari beberapa hal ganjil yang sama-sama kami tonton, atau karena menemani yang lain menonton program bergenre horor. Satu hal lain yang sama dari kami adalah takut dengan hal-hal berbau horor, dengan urutan dari yang terparah adalah Mesil, Nailah, dan aku.

Mesil adalah orang yang paling tidak bisa melihat bahkan mendengar cerita horor. Ia akan terbayang-bayang apa yang ia dengar ataupun yang ia lihat ketika ia akan tidur dan itu akan berlangsung selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Sebagai akibatnya, ia akan merengek kepada kami berdua untuk menemaninya tidur. Sering juga ia tiba-tiba mengetuk pintu kamar kami [jika aku sudah terkapar tidur, ia akan mengetuk kamar Nailah] dengan membawa bantal dan selimut dan tak lupa dengan kata-kata “aku takut,,,,aku mau tidur di tempatmu..”, tentu dengan wajah memelas.

Nailah, yang selalu berpura-pura tegar dengan adegan film. Selalu bersemangat untuk mengajakku menonton film horor namun juga yang paling pertama mencari bantal untuk melindungi matanya. Terkadang aku meneriakinya dengan mengatakan “Heh, dasar……!!! tuh pilemnya di depan…!! sok-sok an sih pake nonton kayak gini”. Tapi kemudian aku pun ikutan mencari bantal untuk menutupi mataku. Haha.

Aku, suka dengan yang berbau horor, tapi aku pun suka jadi parno kalau sedang sendiri. Tiba-tiba terbayang adegan hantu yang datang dengan backsound dramatis. Dan tiba-tiba setting film berubah jadi kosanku sendiri, sempurna dengan kuburan yang berada tepat di depan pintu kosan.

Dan hal itu tak membuat kami kapok untuk menonton film seperti itu, terutama aku dan Nailah.

ada hal unik lain dari mereka berdua:
mesil dan nailah ga bisa nyebrang jalan raya.
oh, god…
aku hampir tidak percaya kalo ga ngeliat sendiri gimana ke-bego-an muka mereka ketika mau nyebrang. aku masih inget waktu janjian di sebuah warung bakso di sebrang jalan raya.
aku udah nongkrong di sana nungguin nailah, ga ampe lumutan sih.
n waktu ada sms dateng, aku ngeliat nailah lagi ngeliat kiri kanan. entah udah berapa lama.
aku nyengir. inget kalo dia ga bisa nyebrang. pengen dibiarin aja. biar dia berani.
tapi ntar kalo ketabrak gimana coba?
akhirnya aku keluar dari warung bakso. n bantuin nyebrang.
aku takjub dengan mereka yang unik. dan berterima kasih karena telah mewarnai duniaku.

Memang tak banyak yang mampu aku lakukan untuk mereka, dan mungkin yang bisa aku lakukan hanya menyediakan telingaku lebar-lebar untuk mendengarkan apa yang ingin mereka ceritakan. Sedih-bahagia-tangis-tawa-dekat-jauh-bertengkar-memaafkan adalah warna dari sebuah ikatan abstrak yang melingkari beberapa jiwa. Itulah yang membuat ikatan ini indah, seperti layaknya pelangi yang memukau karena sekian warna yang membentuknya.

Well, aku tak tahu bagaimana posisiku di mata mereka, aku toh tak begitu peduli. Yang aku inginkan hanyalah semua hal yang pernah kami lalui bersama setidaknya memiliki tempat di salah satu sudut kotak memori berharga di kehidupan mereka.

I hope we can celebrate our friendship in Jannatulloh. Amiinn…

susie89.multiply.com

Andaleb 2, 6 juli 2010

23.14 WIB.

14 thoughts on “Tentang Kami, Tiga Manusia

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s