menikah, tren?

bismillah…
sebuah note yang ku copas dari fesbuk. semoga bermanfaat.

“Seperti lebaran pada umumnya, mendapat tamu atau menjadi tamu adalah hal yang biasa terjadi. Tapi, ada yang berbeda dengan tamu saya dilebaran hari kedua itu. Sosok itu terlihat begitu rapuh. Berbincang dengan beliau sebenarnya masih menimbulkan tanda tanya, karena lupa siapa beliau itu sebenarnya. Setelah lama berbincang ternyata beliau adalah teman nenek. Sedikit lega. Pertemuan siang itu ditutup dengan cerita khas orang se-usianya. Tentang hidupnya, walau sungguh tak banyak yang dapat dimengerti

Sosok itu pergi, nenek menjelaskan tentang siapa beliau. Keterkejutan tak bisa disembunyikan: beliau masih perawan. Ternyata kisah hidup yang tadi sosok itu ceritakan adalah sekelumit masa lalunya. Aku tertegun. Bukan, bukan hanya karena kisah jodohnya yang tak kunjung tiba, tapi tentang ketabahan dan kekuatan beliau menjaga prinsip. Tentang sebuah standard.

Diamati, sosok itu bukan sosok perempuan nyinyir yang menginginkan seorang laki-laki dengan karakteristik keduniaan yang mapan. Beliau sepertinya paham betul akan kekurangan dirinya tetapi kekurangan itu tidak membuatnya hina dengan memutuskan menikah dengan sembarang orang. Mungkin, beliau merasa sepi. Tapi kesepiaanya menjadikannya berharga dimata ini.

Lalu, berbalik dan menengok sejenak kelubuk hati. Apakah mampu sekuat itu? Atau kelak akan seperti cacing kepanasan saat seseorang yang dinanti itu tak kunjung hadir? Tak ada yang tahu. Lalu, saya berkaca pada dunia lain. Pada Masyarakat kampus yang bersahaja. Akhir-akhir ini, halaman jejaring sosial FB saya penuh dengan undangan pernikahan, begitupun dengan isi inbox ponsel. Satu persatu, kakak kelas, sahabat, bahkan adik-adik kelas saya menikah. Apresiasi yang sangat tinggi diberikan bagi mereka yang memutuskan menikah. Sebuah samudra tanpa batas yang menjadikan keimanan sebagai nahkoda utama.Tapi, benarkah itu sebuah kebutuhan? Atau hanya trend?

Dialog bersama para ibu mengatakan bahwa berkeluarga itu tak mudah. Bukan hanya tentang materi tapi juga perlu mental yang sangat kuat untuk bisa berhasil sampai ke Darmaga Surga. Dalam hal materi, tidak sama sekali meragukan firmanNya yang mengatakan bahwa Dia akan memberikan kelapangan Rizki bagi mereka yang menikah untuk menjaga kesucian diri. Sungguh bukan tentang perkara itu yang membuatku miris melihat orang menikah akhir-akhir ini. Latah, itu yang kukhawatirkan terjadi. Ini menjadi akar permasalahan yang kelak meruntuhkan tujuan berkeluarga itu sendiri. Khawatir, dari kelatahan ini tak ada kesiapan yang cukup untuk mendidik anak.

Sejenak, mari kita telusuri visi dan mimpi-mimpi kita. Apakah benar, berkeluarga di usia muda menjadi impian kita? Apa benar kita yakin, kita sudah siap menjadi ibu dan bapak yang berkualitas di usia yang masih sangat labil? Dan Apa benar, dengan menikah muda kita akan menjadi lebih bermanfaat?

Jika pernikahan menjadi suatu kebutuhan untukmu, menikahlah… tapi, harapannya adalah kita tidak memutuskan menikah karena semua orang yang seusia kita sudah menikah. Bukan mereka yang menjadi standar kita. Tapi, usaha maksimal juga kualitas diri yang menjadi input kita berumah tangga itulah bandingannya. Sungguh, jika tak kita temukan di dunia, pasangan terbaik itu telah menunggu kita ditempat terbaik kita dengan kemurnian iman sebagai maharnya.Mari bersabar dan jangan pernah turunkan standar…”

Bogor, 16 September 2010

Syifa Fauziah, (Family and Consumer Science, IPB 06)

19 thoughts on “menikah, tren?

  1. rifzahra said: Kan emg udh wktnya ncus dkk menikah…dlm artian udh gede…jd mngkn trlihat spt tren pas byk yg nikah. Dulu wkt tpb, pasti ga kpikiran gini kan? Pdhl angktan2 atas yg tk4 or lbh byk lho yg nikah. Just out of my mind, hehe :)

    iya kali ya, mbak…hohoho…aku mah belum mau nikah [yakin lo? :p]

  2. Kan emg udh wktnya ncus dkk menikah…dlm artian udh gede…jd mngkn trlihat spt tren pas byk yg nikah. Dulu wkt tpb, pasti ga kpikiran gini kan? Pdhl angktan2 atas yg tk4 or lbh byk lho yg nikah. Just out of my mind, hehe :)

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s