surat untuk [calon] anakku: surat untukmu, yang ku cintai

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Assalamu’alaikum,…
Hai,,, kenalkan… aku ibumu. Wanita yang melahirkanmu di dunia ini.
Hmm… sepertinya perkenalan seperti itu tidak cukup bagus untuk menyapamu lewat surat ini.
Entahlah,,, aku terlalu grogi untuk berangan-angan memilikimu saat aku bahkan belum memiliki rencana untuk menikah. Apalagi harus menyapamu lewat surat singkat ini.
Nah, sekarang baca surat dari [calon] ibumu, surat yang ku buat untukmu pada tanggal 2 Oktober 2010. Jauh sebelum kau lahir di dunia.

Nak, kau tahu?
Sebelum aku berani merangkai masa-masa bersamamu, aku masih menata persiapan untuk menyambutmu. Memperbaiki akhlak, membaguskan tilawah, dan membaca banyak buku, yang tentu semuanya nanti untukmu. Akhlak agar bisa menjadi teladan bagimu. Tilawah yang benar agar kau, anakku, belajar membaca Al Qur’an denganku, ibumu. Fikroh agar kau mewarisi perjuangan ibu dan ayahmu.

Nak, membayangkanmu bersamaku selalu beriringan dengan mimpi besar yang kupunya untukmu. Tapi tenang, aku tidak akan menjadi seorang ibu yang egois. aku akan membebaskanmu untuk menjadi apapun yang kau mau. tapi ada harapanku padamu, yang pasti akan bisa beriringan dengan mimpi-mimpi atau cita-citamu itu.

Nak, kau tahu?
Aku merasakan gemetar ketika membayangkan kau sedang tumbuh di perutku, makan apa yang aku makan, minum apa yang aku minum, mendengar apa yang aku dengar, dan merasakan emosi yang aku rasakan. Aku tak tau apakah aku mampu mengendalikan emosiku ketika aku merasa marah atau kesal. Aku pun tak tau apakah aku menjaga telinga ini dari umpatan-umpatan kasar yang tak jarang mengangkasa di udara ketika aku berada di suatu tempat, tentu dengan kau berada di dalam perutku. Telingaku adalah telingamu, kan?
Tapi aku akan berusaha menjagamu… insyaAlloh…

Nak, ketika kau mulai berontak dari rahim ini, aku harap kau akan terlahir dengan cara yang normal. Agar aku tau bagaimana perjuangan nenekmu ketika melahirkanku. Agar ayahmu tau bagaimana berharganya engkau yang terlahir di dunia. Ah ya, ayahmu tentu harus menemani aku ketika melahirkanmu. Aku hanya berharap semoga ayahmu tidak takut darah. Sepertinya tidak lucu jika aku sedang melahirkanmu, tapi dia malah pingsan di ruang bersalin. Merepotkan, bukan? Hehe.
Ah, Nak… bahkan sebelum kau mampu berbuat apa-apa, hanya dengan terlahirnya engkau di dunia, kau telah memberikan banyak pelajaran bagi kami, orang tuamu. Dan itu hanya mampu menambah panjang daftar alasanku untuk mencintaimu.

Nak, kau tahu?
Aku lebih memilih tetap hidup bersamamu, membesarkan dan mendidikmu bersama ayahmu meski Alloh menjanjikan surga ketika aku syahid saat melahirkanmu. Karena setiap detik bersamamu, melihat kau menangis, tersenyum, tertawa, bahkan mengompol adalah hal yang menakjubkan. Aku tau, ayahmu pun merasakan hal yang sama.
Oya, maaf, aku pun sebenarnya tak tau bagaimana ayahmu nanti hehehe [aku memang sok tau], tapi ia pasti akan mencintaimu kok, seperti aku.

Nak, kau tau?
Aku bukan orang yang mudah berkata “sayang” atau kata-kata lain yang penuh dengan kehangatan cinta. Tapi demimu, Nak. Aku akan belajar untuk mengatakannya, belajar untuk mengutarakan cinta dengan bahasa yang mudah kau pahami. Karena itu selama menunggu masaku untuk bertemu denganmu, aku akan belajar menjadi ibu yang romantis.
“Menjadi hangat itu tidak spontan, perlu belajar”
[Aku harus berterima kasih kepada seseorang yang mengatakan hal ini padaku beberapa waktu yang lalu]
Mungkin akan sedikit menggelikan dan mungkin akan sangat “menguras tenaga” karena ini berkaitan dengan kebiasaan dan kekakuanku sebagai seorang wanita.
Tapi tak apa… aku akan mencobanya.
Karena ini untukmu, Nak,,, yang ku cintai.

Nak, kau tau?
Aku mencintaimu,
Meski aku belum mengenalmu
Meski aku belum mampu mereka bagaimana rupamu
Meski aku belum bisa merengkuhmu dalam dekapanku
Aku mencintaimu,
Dengan segala imajinasi yang kupunya untukmu.

Wassalamu’alaykum…
[calon] ibumu

lomba surat untuk [calon] anak
di http://azkamadihah.wordpress.com/2010/lomba-surat

24 thoughts on “surat untuk [calon] anakku: surat untukmu, yang ku cintai

  1. susie89 said: hahahaitu udah program permanen sih, pil… jadi klo ngobrol emang itu yang keluar.ntar kalo aku ngobrol ama kamu lagi, aku akan memunculkan sifat melow dan keibuanku deh.*padahal aku juga ga kebayang gimana bentuknya :p*

    kalo aku mah udah keliatan ye? emak2

  2. berry89 said: kan yg kamu tongolin kalo ama aku cuma sisi kegejean

    hahahaitu udah program permanen sih, pil… jadi klo ngobrol emang itu yang keluar.ntar kalo aku ngobrol ama kamu lagi, aku akan memunculkan sifat melow dan keibuanku deh.*padahal aku juga ga kebayang gimana bentuknya :p*

  3. susie89 said: aku kan punya empat kepribadian, pil…ini mah sisi keibuan yang lagi berbicara *hoeekkk cuih cuih.. :))*kamu gatau ya?:p

    kan yg kamu tongolin kalo ama aku cuma sisi kegejean

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s