jilbab pertama: terima kasih cinta…

Aku terpesona dengan pakaian panjang yang membalut tubuh wanita itu dan sehelai kain yang menutup sempurna kepala hingga di bawah dadanya. Wajahnya biasa saja, namun terpancar lebih ayu dan anggun. Aku kemudian jatuh cinta dengan semua itu.

Aku mengutarakan keinginanku untuk menggunakan kerudung kepada orang tuaku. Aku sangat ingat, aku masih SMP kala itu. Namun jawaban dari ibu mengecewakan hatiku.

“Kuwe kuwi nak nganggo rok dowo yo mengko keserimpet tibo. Bocah esek pecicilan are’ nganggo jilbab.”*

Ya, aku memang tak pernah bisa diam. Layaknya seorang tarzan, aku aktif memanjat semua pohon yang ada di sekitar rumahku. Pernah suatu kali, hari jum’at kalau tidak salah, aku telah rapi memakai seragam SMPku dan tiba-tiba aku ingin memanjat pohon jambu yang tidak terlalu tinggi sembari menunggu teman satu sekolah untuk berangkat bersama. Bisa ditebak bagaimana akhir adegan itu, rok pendekku sobek saudara-saudara… beruntung tidak ada yang sadar dengan hal itu dan aku hanya tertawa kemudian berlari ke rumah untuk menggantinya dengan rok yang lain.

Keinginan menutup aurat itu memang terbentur dengan sikap keras ibuku, namun tidak terbendung bahkan ketika aku mulai memasuki SMA. Sebuah sekolah favorit di desaku yang membuatku bertemu dengan mereka. Wajah-wajah yang bersemangat dengan aktivitas ROHIS, yang terus terang saja sebenarnya aku tidak terlalu berminat. Tapi akhirnya aku bergabung pada barisan itu ketika aku kelas dua. Dan aku? Tentu masih dengan kepala botak alias tidak memakai kerudung. Memang ada yang protes : “Dia kan ga pake jilbab, kok ikutan rohis?”
Aku hanya cuek dan bersikap masa bodo. Toh ketua rohisnya bersikap biasa aja, bahkan membelaku.
“Memakai kerudung itu hidayah, jadi tidak bisa dipaksa”
Aku manggut-manggut sok faham waktu itu. Ketua rohisnya memang rada keren. Keren karena membelaku maksudku.

Teman-temanku, yang ikut menyemangatiku memakai kerudung memang berhasil membuat semangat itu tetap berkobar. Namun Ibuku tidak mau memfasilitasiku untuk memakai kerudung. Yah, mungkin itu juga karena kondisi ekonomi keluargaku sangat buruk waktu itu. Jadi untuk membelikanku seragam yang baru menjadi prioritas ke sekian. Keinginan itu kembali teredam.

Di akhir kelas 2 SMA, aku menuai gosip yang tidak enak. Masa-masa SMA yang menyenangkan menjadi masa yang sangat suram kala itu. Aku bahkan sempat terkena phobia laki-laki karena gosip itu, yang bertahan hingga kelas 3. Aku bahkan sampai pindah kelas (dari 3.2 ke 3.1) agar bisa menyelamatkan diri dari cengkeraman anak-anak “berandal” di sekolahku. Asal tahu saja, aku hampir gila waktu itu.
Alhamdulillah, Alloh memang menyayangiku, aku berada di lingkaran teman-temanku kembali. Dan ketika mereka menawarkan membantuku memakai kerudung, aku tersenyum mengangguk. Binar bahagia yang ku lihat dari mata mereka mungkin lebih bersinar dari kedua bola mataku. Sungguh, aku bahagia. Tidak hanya karena keinginan itu akan segera terwujud tapi juga karena memiliki mereka. Ah, kawan… aku menyayangi mereka…
Mereka memberiku beberapa stel seragam sekolah agar aku bisa sempurna menutup aurat. Dan ibuku, tidak bisa mencegahku lagi karena tak perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Aku bahagia.

Sekitar satu minggu sebelum ujian semester ganjil kelas 3 SMA, aku resmi mengumumkan pada dunia bahwa aku akan memakai kerudung [hingga akhir hayat]. Hari pertama memakai kerudung di sekolah aku menuai banyak senyuman di wajah teman-temanku. Aku yang risih dengan cipika-cipiki akhirnya mengalah pada hari itu, membiarkan pipi kanan dan kiri menjadi sasaran mereka. Alhamdulillah, kerudung itu membantuku untuk menyelesaikan gosip tidak menyenangkan itu, meski memang tidak secara langsung.
Helaian kain itu tetap setia menemaniku kemanapun aku pergi, seperti mengingatkanku atas jasa mereka, sahabat dan saudara-saudaraku.

Thanks a lot to my lovely sisters in senior high school.
I love you all because of Alloh SWT

* kamu itu kalau memakai rok panjang ya nanti jatuh. Anak masih pecicilan kok pengen pakai jilbab

diikutkan pada lomba ini

8 thoughts on “jilbab pertama: terima kasih cinta…

  1. nuqiechan21 said: waaahhhh,,, Subhanallah,,,ucapan itu yang dilontarkan emih juga waktu pertama kali ingin pake jilbab,,,

    hehehealhamdulillah….:Dikutan lombanya ga, mbak?:D

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s