Iri Itu Hanya Masalah Sudut Pandang

lagi pengen nulis rada2 berbobot di blog ini, meski temanya tetep random. engg… ga yakin juga sih ini bakalan jadi berbobot atau nggak tulisannya. melihat track record menulis sayah yang kayaknya mandeg di tahap ngegeje. =,=
oke, lanjut.

sayah (kata saya selalu dibubuhi huruf “H” di belakangnya agar tidak terkesan sangat formal, red) pernah merasa iri dengan beberapa orang di kehidupan saya. dan jujur saja, iri ini pun kadang tidak termasuk ke dalam hal yang boleh diirikan di agama islam. =..=

  1. entah itu hanya perkara keliling eropa, sedangkan sayah masih bertengger di Indonesia, khususon kota Bandung.
  2. entah itu hanya perkara S2-S3, sedangkan sayah puas dengan S.Gz yang menempel erat di belakang nama sayah.
  3. atau sekedar jumlah anak yang ada di tengah-tengah keluarga, sedangkan saya masih berdua kemana-mana dengan suami.
  4. atau malah hanya sekedar keliling indonesia, yang lagi-lagi dibandingkan dengan kondisi pribadi yang masih stagnan di Bandung. paling hanya sekali ke Medan

hingga suatu ketika sayah iseng melacak blog teman sayah yang sok misterius dan merahasiakan alamat blognya. dan blog teman sayah itu akhirnya ditemukan dengan kata kunci yang ternyata luar biasa mudah didapat oleh kejeniusan yang sayah miliki *halah.

di dalam blog itu sayah menemukan perspektif iri yang berbeda dari yang sayah miliki. pada salah satu postingan blog teman sayah itu, ia mengaku bahwa ia iri melihat tingkah laku sayah dengan suami sayah ketika -kebetulan- kami dalam acara rihlah yang sama.

Ceritanya begini :

waktu itu kami sedang akan makan siang setelah sholat dzuhur di musholla tempat rekreasi di daerah Cimahi. menu makan siang kami sama, nasi timbel ayam bakar. menu ini dilengkapi dengan banyak makanan lain semacam tahu goreng, sambel, asin balado, lalapan. *ngelap iler yang tiba2 netes*

Nah, pada saat itu sayah masih belum boleh makan benda-benda yang bersenggolan dengan sambal apalagi yang berlumuran tumbukan cabe semacam ikan asin balado yang menggiurkan itu. sayah yang sadar kalau ada suami sayah yang sedang duduk di sebelah saya, melirik dengan awas isi piring sayah. sayah waktu itu -dengan sangat terpaksa- meminta persetujuan tentang makanan mana saja yang boleh saya masukkan ke lambung sayah.

suami sayah dengan serta merta menyortir semua makanan bersambel. mata sayah yang sudah berubah ijo karena warna merah sambal itu mengikuti gerakan sendok suami saya yang membersihkan “piring” saya dari sambal dan teman-temannya. huhuhu… sebenarnya saat itu sayah kepingin banget makan secolek sambel. secoleeekkkk ajaaaa… tapi suami sayah lagi galak-galaknya perihal sambel (!!!).

apalagi saat itu ada banyak saksi mata yang bisa melaporkan kenakalan sayah kalau sayah berani melanggar. jadinya sayah diem aja, kalem, padahal dalem hati pingin protes ala para demonstran di depan kedubes AS. bakar ban kalau perlu hehe *lebay*

tapi ternyata…. teman sayah itu, yang posisi duduknya ada tepat di hadapan kami, melihat adegan “penyiksaan menu makan siang tanpa sambel” ala suami sayah dengan perspektif yang berbeda.

teman sayah ini menganggap bahwa apa yang dilakukan suami sayah itu adalah sesuatu yang romantis.
Halo? Nduk, seriously? iri sama adegan itu? adegan itu romantis? -___-”

sayah ga habis pikir, dari arah mananya kata romantis bisa mewakili adegan siang itu?

ternyata pertanyaan sayah itu terjawab di beberapa paragraf berikutnya di postingan blog teman sayah itu. si fulanah ini menjelaskan bahwa saat itu dia divonis lambungnya bermasalah oleh dokter. karena itu ia berangan-angan ada seseorang yang dengan telaten menyortir makanannya setiap dia makan agar ia terjaga kesehatannya. maklum, si fulanah ini masih jomblo statusnya.

Ih wow… penyiksaan bagi saya ternyata menjadi sebuah hal mewah bagi teman sayah ini. sekali lagi, seriously? heuheuheu

saya jadi semakin diingatkan bahwa bisa jadi saya iri dengan kehidupan orang lain, yang sedang keliling eropa, yang sedang menikmati salju di amerika, yang sedang bercanda ria dengan bayi-bayi mereka, dst dst..
namun di saat yang sama bisa jadi mereka juga merasa iri dengan kehidupan yang saya jalani :

  1. saya sudah menikah (yang iri mungkin adalah teman-teman saya yang masih single),
  2. mungkin saja ada yang iri melihat saya memeluk punggung suami sayah ketika saya dibonceng di belakang motor berangkat atau pulang kerja
  3. saya merasakan touring sepeda motor dari Bandung ke Banten dengan suami sayah dan teman-teman geng motornya,
  4. kebodohan-kebodohan yang sering saya alami bareng suami saya yang karakternya memang tergolong aneh dan langka,
  5. jalan-jalan kesana-kemari seperti tidak ada beban, bolak-balik luar kota ketika banyak yang harus ditangani saat kerja
  6. bahkan bisa jadi hal-hal kecil seperti suami sayah yang sering kali membantu mengancingkan jas hujan ketika hujan menerjang kota Bandung saat suami sayah menjemput sayah
  7. mungkin saja ada yang iri dengan ketelatenan suami sayah ketika menunggui saya pulang kerja di depan indomaret dekat kantor, bahkan hingga maghrib menjelang
  8. atau iri dengan sayah karena suami saya yang rela mengantar saya pukul setengah 4 pagi padahal suami saya baru istirahat pukul 10 malam lalu menjemput saya kembali setelah isya..
  9. mungkin ada yang iri dengan status fotografer yang tersemat di nama suami sayah karena mereka fikir akan banyak sekali foto kami berdua (meskipun hal itu sudah agak terpatahkan dengan postingan sayah sebelumnya, haha)

dan…
ah, ternyata banyak sekali hal-hal kecil yang patut saya banggakan dari kehidupan saya yang penuh dengan kebodohan kejutan ini.saya jadi semakin yakin akan kalimat yang baru kemarin saya ciptakan di benak saya.

iri hanya masalah sudut pandang.

boleh jadi saya mengganggap kehidupan orang lain begitu sempurna, namun bisa jadi orang lain melihat kehidupan saya begitu indah dan bahagia.

Subhanallah… maha suci Alloh yang telah menumbuh suburkan cinta saya kepada suami sayah melalui rasa iri terhadap kehidupan orang lain. dan ya ucapkan :

“selamat tinggal, iri…”

Kak, thank you for being my husband.
love,
your wife

gombongg

=D

28 thoughts on “Iri Itu Hanya Masalah Sudut Pandang

  1. aih, romantis loh itu Ncuss, ngasih perhatian2 kecil sehari-hari
    ngiri ih, soalnya suamiku enggak romantis x_x

    *mampir baca-baca di sini
    jarang berkunjung karena beda platform blognya :D

  2. Betulll…. Rumput tetangga seolah-olah tampak jauh lebih hijau, padahal boleh jadi rumput kita berkali-kali lipat jauh lebih hijau dari pada tetangga. Syukuri saja…. ^^

  3. hingga bahkan itu bisa juga terjadi dengan yang sudah menikah, say… ;). tatkala mereka jauh dari pasangan sedangkan kita (jyaa..kita. :d) pulang dan pergi kerja/aktivitas diantar jemput, pekerjaan rumah dishare bersama…dan ktika sakit, diperhatikan… jadi, manalagi nikmat Alloh yg kita dustai… ^^ #bersyukur

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s