Pemakaman Tanpa Air Mata

Hari Senin siang saya sudah duduk di samping pusara tanpa bunga itu, ditemani olehnya yang sesekali menepuk punggung dan mengelus kepala saya. Saya hanya duduk terpekur menyeksamai butiran tanah yang menggunduk dan dipagari 2 kayu nisan. Tak ada air mata yang mengaliri kedua pipi saya. Mungkin air mata saya sudah kering di perjalanan dari Bandung ke Lampung. Atau mungkin karena saya tidak mau air mata saya menjadi tontonan orang, kecuali suami saya.

Lalu saya mengangkat tangan, berdoa untuk Bapak yang telah pergi menemuiNya. Hanya ada harap agar Alloh melapangkan kubur Bapak, mengampuni segala dosanya, menempatkannya di sisiNya yang baik dan menjadikan kematiannya sebagai pengingat untuk semua orang di sekitarnya bahwa ajal itu dekat.

Maaf ya Pak, saya nggak bisa melakukan bakti terakhir sebagai anak. Saya hanya bisa mendoakan dan semoga saya menjadi salah satu amal jariyah di dunia buat Bapak. Aamiin.

credit photo : wicak

ini kebetulan kok ada logo partainya =D | credit photo : wicak

***

Siang itu, langit di Pringsewu sangat cerah dan bersih. biru dengan gerombol awan di sana-sini.mungkin itu cara Alloh menghibur saya agar saya bisa tersenyum melepas kepergian Bapak.

credit photo: wicak

credit photo: wicak

credit photo: wicak

credit photo: wicak

credit photo: wicak

credit photo: wicak

34 thoughts on “Pemakaman Tanpa Air Mata

  1. Inailillahi wa inna ilaihi raji’un ya say…
    Semoga amal ibadah bapak diterima, saatnya bakti itu setelehnya justru, mendoakannya sebagai anak solehah, yang tabah ya…

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s