Ranu Kumbolo #2 : Pendakian

“Perjalanan ini bukan tentang pertunjukan kekuatan, tapi perjalanan dzikir pada Sang Maha Kuat” -Hikari Azzahirah-

DSC_0001

yg cewek2 make jeep warna orenz

Dari Tumpang Ke Ranu Pani
kami masih leyeh2 di sekitar Indomaret Tumpang sambil nungguin kru Jeep menyusun keril2 kami di atap mobil. peserta yg tercecer karena naek pesawat juga udah ngumpul, begitu juga rombongan dari jawa timur. ramee….. :D.  kami juga sempet poto2 di depan jeep, ga sempet ngitung berapa kali yg nyobain bermacam2 pose di jeep. sekitar jam setengah 12an, 3 jeep yg berwarna orenz, hijau, dan hitam itu berangkat menuju ranu pane atau klo di plang desa sih namanya ranu pani. ya terserahlah sama aja pan? :D

waktu itu saya memilih utk berdiri di belakang jeep karena pikir saya pasti mengasyikkan :)). ternyata benar… asik bgt di belakang itu. angin yg semribit, goncangan jeep yang semakin lama semakin aduhai. haha. sewaktu memasuki daerah pegunungan, kami mulai terguncang2 parah. tangan harus kuat menahan badan agar tidak terlempat ke luar jeep. serem juga sih ngeliat track yg dilalui sama jeep. ekstrim.

kami bersorak-sorai saat langit di atas kepala kami menjadi biruuu sebiru langit di pringsewu, kampung halaman sayah. dan teriakan histeris semakin membahana ketika jeep berada di atas kawah purba. masyaAllah… luar biasa… para penumpang lgsg pada heboh minta difotoin. saya sama kang dudi yg kebetulan bawa kamera di tangan masing2, berusaha sekuat tenaga buat motret di atas jeep.Yg ternyata… susah, sodara-sodara…. karena track jeepnya itu muterin gunung. jadi tangan kiri harus sekuat tenaga menstabilkan tubuh yg digoyang sama jeep. hasil fotonya banyak yg absurd :)). alhamdulillah semua jeep kompak berhenti di tengah2 kawah purba. kami turun sejenak dari jeep utk memotret landscape di kawah purba dan tentu saja poto bareng pasangan/keluarga masing2 (yg jomblo mah minta dipotoin sendiri #eh). setelah itu kami berangkat lagi.

kami kira2 sampai di Ranu Pani sekitar jam setengah 1. rombongan bapak2 sholat dzuhur duluan, yg cewek2 jagain tumpukan keril dan perbekalan. ini istilah yg dipake ga sepadan banget yak? yg laki2 disebut bapak2, yg perempuan disebut cewek2. ah biarin…. :p. dan yg cewek2 malah pada sibuk makan bakso, yasudahlah, saya tidur2an aja deket keril. bisi ada yg ilang. karena ranu pani lagi rame. banyak rombongan yg akan mendaki semeru hari jumat itu. sekitar jam setengah 2 kami bersama2 menuju pos registrasi. di pos ini kami tertahan hampir 2 jam karena harus registrasi dari NOL. saya sempat membantu pakde Ikmal utk mengurutkan fotokopi KTP dan surat keterangan sehat yang harus dibawa sebagai persyaratan utk mendaki semeru. saya juga yg diberi mandat utk menyerahkan berkas2 itu ke loket sesegera mungkin karena jam 4 loket registrasi Semeru ditutup oleh petugas. saya tergopoh2 ke loket dan menyerahkan semuanya.

sret..sret.. sret… suara kertas diitung sama om petugas.
plok..plok plok… suara stempel.. eng,, gataulah gimana suara stempel. emg penting ya? :p

Dan pendakian pun dimulai

15.35 WIB kami mulai menyeret langkah ke gerbang pendakian Mahameru. fyi, pada saat masih di pos pendaftaran, saya sudah merasa bahwa keril saya sangat berat. tapi saya berusaha sekuat tenaga utk senyum dan meyakinkan diri tentang kalimat Laa Hawlaa walaa quwwata illabillah. udah, itu aja yg saya yakini sejak pertama kali saya melangkahkan kaki :D.

DSC_0082

selamat datang Para Pendaki Gunung Semeru (padahal cuman sampe Ranu Kumbolo, haha)

Awalnya saya pingin jalan ke ranu kumbolo bareng sama si kakak, tapi apa dinyana.. si kakak berjalan dengan sangat lambat. dan waktu itu saya menjadi orang yg rada kurang sabar mengingat beban di pundak gak main2 beratnya. saya juga tidak mau kehabisan tenaga karena terlalu banyak berhenti sedangkan saya, yg pernah

persawahan sebelum gerbang

persawahan sebelum gerbang pendakian

merasakan lost all energy waktu muncak ke Manglayang, tidak mau orang2 di sekitar saya mendapatkan tatapan tajam dan ekspresi datar saya karena kehabisan tenaga dan bad mood. saya waktu itu memutuskan utk fokus pada kaki saya saja waktu mulai mendaki. saya berfikir bahwa, di depan saya masi banyakkk bangett rombongan kami yg sudah berangkat duluan. jadi insyaAllah saya ada temannya klo misalnya saya mendahului orang2 di kloter ke-2 inih. ya kaliii… haha :)).

singkat cerita, saya semakin menjauh dari si kakak. tiap langkah saya selalu diiringi dengan takbir dan kalimat yg menandakan bahwa saya hanyalah makhluk tak berdaya, Allah-lah yg memberi saya kekuatan hingga detik saya mengucap Laa Hawlaa walaa quwwata illabillah :D. dalam pendakian itu saya membanding-bandingkan dengan jalur Manglayang. ternyata benar, track ke Ranu Kumbolo ini memang relatif sangat landai jika dibandingkan dengan manglayang. saya benar-benar bersyukur pernah nanjak ke Manglayang karena saya bisa menjadi manusia yang dapat menahan diri dari keluhan jalan menanjak.karena memang tanjakan tercuram di pos 3, ga ada apa2nya dibandingkan dengan track di Manglayang. jadi saya lebih banyak diam dan tersenyum dalam hati saat banyak dari kami yg berkomentar heboh mengenai tanjakan di Pos 3. :D

20141121_160219Setelah cukup lama menapakkan kaki di jalur pendakian, saya agak cukup jauh terpisah dari rombongan belakang. saya waktu itu memanfaatkan waktu utk berkhalwat dengan alam. saya benar-benar merasa bahwa hanya ada saya, pohon, tanah, udara, dan Allah. waktu itu saya sempat hampir menangis mengingat dosa-dosa yg saya lakukan. bahkan dalam kondisi saya yg demikian penuh dosa, Allah masih memberi kesempatan pada saya utk melihat kebesarannya ketika menciptakan bumi Indonesia T.T. tak berapa lama kemudian, saya bertemu dengan Pak Budi, salah 1 rombongan dari Bandung. kami berdua saling susul menyusul yg kemudian pak budi bersama dengan Pak Imam sedangkan saya kembali berjalan sendirian. alhamdulillah, di depan saya ada rombongannya Mbak Tyarin, suaminya, dan mbak Heny. dengan merekalah saya akhirnya berjalan bersama2 hingga mendekati ranu kumbolo, tujuan akhir kami.

Tragedi Obat Oles Mbak Chana

Kami Beberapa kali berhenti hingga sampai di pos 1, di sana sudah banyak rombongan Mbak Nur dan Suami, Mbak

Mbak Chana. Sang pengoles obat berdarah :))

Mbak Chana. Sang pengoles obat berdarah :))

Chana dan Suami serta Bli Nyoman. Pundak saya waktu itu sudah hampir kebas. capek luar biasa dan sakit. saya awalnya bertanya ke teman2 yg di Pos 1, apa ada yg membawa counterpain atau parem kocok atau apapun yg dapat membantu meringankan sakit di pundak. tapi ternyata ga ada yg bawa. sebagian besar karena barang2 mereka sudah dibawa oleh para porter. oiya, saya lupa cerita bahwa dalam rombongan ini banyak yg menggunakan jasa porter. maklum, peserta “rihlah” ini bukan berlatar belakang pendaki. olahraga juga alakadarnya. tapi rejekinya banyak. jadi daripada nyusahin badan, mending bagi2 rejeki sama bapak2 porter. betul nggak? #eaaaa. saya sih gak make porter, pertama karena saya pingin ngerasain bawa beban ke rakum. ke rakum doang gitu lho, ga sampe puncak. yg kedua, ga ada duid. dan itu adalah alasan utama. haha.

balik lagi soal counterpain, mbak chana menawarkan semacam obat utk meredakan sakit punggung. katanya sih dari kanada, apa dari singapur gitu. lupa sayah. yaudah, saya sih mau2 aja. si “obat” tadi bentuknya roll on, jadi dioles2 macam rex*na di pundak sayah  berkali2. saya sih awalnya ngerasa, “enak juga nih obat,berasa dipijet” :v. mbak tyarin juga ikutan nyobain obat oles ajaib dari mbak chana.

kemudian tragedi itu pun terjadi,,,
beberapa langkah setelah kami meninggalkan pos 1, saya merasa bahwa pundak yg tadi diolesi sama obat oles semakin dingin dan ada sensasi seperti digigit semut. awalnya saya masih bisa tahan, tapi lama2 gigitan itu semakin menjadi dan saya mulai berbicara dengan mbak tyarin sambil berteriak “mbaak,,, pundaknya sakit gak mbak? kok kyk digigitin semut gini ya?” “iya nih cuss… lama2 sakit lho…” dan kami berteriak2 di jalan dan disaksikan oleh tawa mbak heny yg kyk puas banget ngeliat kami kesakitan. haha. efek baik dari rasa sakit itu adalah kami bisa mengalihkan perhatian dari beban keril di pundak. dan kami berjalan dengan agak lebih cepat. sensasi gigitan semut itu baru hilang setelah lebih dari setengah jam kami berjalan. waktu saya ditawarin lagi buat makek obat ajaib itu sama mbak chana di tenda, saya serta merta bilang “ogaahh.. gamau lagi gue make obat itu. sakit banget”. mbak chana cuman ketawa ngakak. -__-”

Menuju Ranu Kumbolo
dari pos 1 ke pos 2, waktu sudah mulai menunjukkan hari akan berganti malam. perjalanan masih relatif datar. hanya saja sekitar pukul 17.37 kami disuguhi penampakan Mahameru yg tadinya bertabir kabut tebal, tiba2 saja angin meniup tirai itu. kami serta merta menghentikan sejenak perjalanan, meneriakkan takbir lalu berebut minta difotoin…. :)))

setelah kekisruhan sunset, kami kembali meneruskan perjalanan. saat itu ada beberapa pohon yg tumbang ke jalan, sebagian besar dalam kondisi habis terbakar. ada juga pohon yg sangat besar melintang di jalur pendakian yg harus dilompati karena merayap di bawahnya adalah hal yg merepotkan. seperti inilah penampakan si pohon bongsor itu.

qoonit yg lagi bersusah payah melompati pohon

qoonit yg lagi bersusah payah melompati pohon

Ba’da melewati pohon bongsor, kami menyalakan headlamp karena perjalanan di malam hari akan dimulai. perjalanan Malam adalah hal yg sangat relijius buat saya. hati bertambah khusyu’ menyebut namaNYA. dzikir adalah hal yg tak pernah lepas dari bibir. karena saya yakin, dari situlah saya masih bisa menapaki jalan. agak lebay kyknya ya,,, tapi kalau kamu tau bagaimana kondisi organ dalam tubuh saya, maka kamu akan tau betul bahwa apa yg saya tulis tadi adalah nyata buat saya. hehe. :D

saya dan rombongan mbak tyarin berhasil menyusul rombongan mbak nur yg sudah duluan dan kami bergabung menjadi rombongan yg lebih besar. sesampainya di pos 3, kami kan pingin leyeh2 dulu karena kaki udah mulai soak. tapi ada bapak2 yg bilang “ngapain kalian istirahat di sini? nanti males lho ngeliat tanjakan ituh… nanti aja istirahatnya klo udah kelar nanjak” buset, yaudahlah… kami terseok2 mengikuti perintah. dan memang ada tanjakan yg cukup terjal dibandingkan rute sebelumnya. meski tentu saja, seperti yg saya bilang di awal, tidak se-ekstrim manglayang.

kami kemudian tepar di tanah datar ba’da tanjakan. perjalanan kembali dilanjutkan sampai ke pos 4. kira2 sampai di pos 4 itu jam 9 malam. kata porter sih sampe ranu kumbolo cuman 15 menit. mendengar itu kami kembali bersemangat mengayuh langkah. tapi ternyata omongan itu hanya harapan palsu yg sering diucapkan para motivator. tapi ranu kumbolo yg tampak dari pos 4 terbayang2 di mata, menjadi api semangat tersendiri bagi kami. pendakian malam semakin seru karena Bli Nyoman yg berada di depan memberikan petunjuk bahwa di depan kami ada jurang, batu, kayu, batang pohon, dll. hal ini semakin semarak karena ada nyanyian kentut dari para rombongan. rame lah pokoknya… hahaha =)).

semakin mendekati ranu kumbolo, udara semakin dingin, kaki semakin membeku, pundak semakin berat, kaki semakin tak bisa dikendalikan. otak ingin jalan mepet ke kanan, tapi kaki malah melenceng ke kiri. sekali saja kamu loss focus, bisa berakibat terperosok di lubang. heuheu. dari pos 4, perjalanan relatif menurun. dan kami segera mengikuti porter yg tiba2 sudah menjauh dan kembali menapaki jalan mendaki. ealaahh… ternyata lokasi kemah kami masih jauh… padahal waktu kami turun dari pos 4, sudah ada orang2 yg berkemah di sebelah kanan kami. -__-” yasudahlah, toh sepertinya ga akan lama lagi. mari kita genjot langkah menuju tendaa yg angeettt… ternyata di antara rombongan yg banyak itu, satu persatu headlamp sudah meredup cahayanya, bahkan beberapa sudah mati. tinggal-lah saya yg di bagian depan yg bertugas menerangi langkah mereka yg ada di belakang saya. otomatis perjalanan jadi lebih lambat karena harus menunggu yg lain.

akhirnya, perjalanan panjang kami berakhir pukul 21.30 WIB. di sana sudah ada rombongan jawa timur dan sidqi! ternyata mereka sudah sampai di rakum jam setengah 7 malam. luar biasoo… :))

saya, mbak nur, dan mbak chana, lgsg milih tenda. dan kami ber3 langsung gelar matras dan sleeping bag. saya juga segera membuka emergency blanket karena kaki saya sudah sakit akibat serangan dingin. kami langsung meringkuk di dalam sleeping bag masing2 utk meluruskan punggung. dan mengistirahatkan pundak. alhamdulillah….

bersambung di #3

7 thoughts on “Ranu Kumbolo #2 : Pendakian

  1. Pingback: Akhirnya Tracking Di Kawah Ijen! | The Rok Traveler

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s