Touring Bandung-Ujung Genteng #1

kami di pantaiii...

kami di pantaiii…

Kami, saya dan si kakak, membuka tahun 2015 dengan tidur di awal waktu. Bobok sebobok-boboknya, gak keganggu sama sekali dengan kembang api. Saya juga tidak terobsesi utk menonton kembang api karena hasrat saya mengenai kembang api sudah terpenuhi beberapa waktu lalu di sini.

saya dan si kakak sudah jauh-jauh hari merencanakan utk main ke Pantai Ujung Genteng di awal tahun. Saya malah udah siap2 buat ngajuin cuti demi touring ini. Tapi ternyata tempat kerja saya inih ngasih libur bersama dong… jarang-jarang banget! Alhamdulillah. Rencana kita fiks lanjut!

Fyi, Pantai Ujung Genteng ini letaknya di Sukabumi. Mungkin kalau cuman denger “sukabumi”, orang2 mikirnya “ah, deket ini mah…” padahaaall… ini sukabumi yang di ujung dunia jawa baraatttt. Tepos dah itu pant*t sampai sana. Detilnya saya ceritain nanti.

 Kamis, 1 Januari 2015

Pagi-pagi saya sibuk nyuci baju karena udah numpuk dan mengingat hari minggu nanti saya mau istirahat aja, gamau megang2 cucian :p. jam 9 pagi saya mandi, beres2. Si kakak juga dari pagi udah ngoprekin si Rebi yang sehari sebelumnya udah “jajan” di Kawasaki Jl Pajajaran. Jam setengah 10-an barang2 ditata sama si kakak di bagasi motor (gaya bener sebutannya bagasi, padahal temen2 nyebutnya magic com :v).

Yang dibawa itu:

  1. Baju ganti utk 2 hari
  2. Sebotol kecil minyak kayu putih asli dari Ambon (ya ga usah dikasih embel2 asli dari ambon kaleee..)
  3. Peralatan mandi
  4. Kaos kaki cadangan
  5. Jas hujan
  6. jas hujan untuk sepatu
  7. camel bag yg setia nongkrong di punggungnya kakak
  8. power bank (yg ternyata gak dipake, haha), berbagai colokan dan casan
  9. kamera
  10. GoPro pinjeman

sekitar jam 10 lewat seperempat, klo gak salah, kami memulai touring ke Ujung Genteng. Sebelumnya kami ngisi bensin full tank di shell Jl. Pasteur. lalu kami jalan nonstop dari Bandung sekitar jam setengah 11 sampai jam 12. Kami berhenti untuk shalat di masjid di pinggir jalan, tepatnya di wilayah Cianjur. Alhamdulillah masjidnya akhwat-friendly. Tempat shalat, toilet dan tempat wudhu dipisah dengan bagian bapak2. Kalau saya perhatikan sih, di Cianjur ini banyak masjid besar yang kondusif utk kita para akhwat ketje. Letak masjidnya juga strategis, di pinggir jalan.

Jam 12.30 kami berangkat lagi, langsung ke sukabumi. Rencananya kami mampir di rumah Bulek yang letaknya di Baros dan kebetulan rumahnya searah dengan perjalanan kami. Dan tentu saja kami ke sana sekalian silaturahim. Kami sempet makan siang dulu sih di RM Padang di sekitar situ, dan beli 2 kg mangga utk sogokan sekedar oleh-oleh buat bulek dan keluarga. Kami sampai rumah bulek sekitar jam setengah 3an. Kami istirahat dan numpang makan di sana sampai besok pagi.

2 januari 2015

Sebelum subuh kami udah bangun, tapi males2an karena enak juga tidur di Kasur. Haha. Tapi akhirnya kami bangun juga, sholat subuh, mandi dan siap2 melanjutkan perjalanan. Sekitar jam setengah 7 kami berangkat dan touring yang sebenarnya pun dimulai.

Rute Touring Bandung Sukabumi selengkapnya adalah

Bandung (Pasteur)-Cimahi-Padalarang-Cipatat-Ciranjang-Ci… (entah ci-apa lagi itu)-Cianjur-Sukabumi-Baros-Jl. Pelabuhan 2 (searah dengan Jalan menuju Pelabuhan Ratu)-tembus ke Panggeleseran-ambil kiri terus ke arah Bojong Lopang-Lengkong-Jampang Kulon-Surade.

Jarak dari Kota Sukabumi-Surade ini >125 km.

Dari Kota Sukabumi, kami berhenti sejenak di depan Pom Bensin Pertamina, yang letaknya di jalan yang konturnya menanjak. Dari Pom Bensin inilah, track touring menjadi tidak ramah untuk perut dan pinggang. Jalan rusak hingga kecepatan motor yang tadinya 40-50 km/jam merosot tajam menjadi 12-15 km/jam saja. Saya banyak-banyak tahan napas karena jalan yang ajrut2an begini bikin saya sakit perut. Analisa saya sih, jalannya rusak gara2 banyak truk dari pabrik yang beroperasi di jalan inih. Kenapa coba itu pabrik2 gak ngasih kontribusi utk perbaikan jalan? Kan ini buat mempermudah transportasi mereka juga! Hih.

Jalan yang jelek ini berselangseling dengan jalan yang cukup bagus, tapi didominasi dengan jalan jelek hingga ketemu Jalan Provinsi (saya tau status jalannya itu Jalan provinsi karena ada plang-nya :p). Klo udah sampe jalan ini, maka jalannya sudah bagus. Meski tetap ada ruas jalan yang jelek. Di sinilah kecepatan motor jadi normal kembali di 30-50 km/jam.

Sekitar jam setengah 9, gerimis mulai melanda. Tapi kami masih tahan untuk terus melaju di atas motor karena gerimisnya masih bisa ditolerir. Tapi lama-lama gerimisnya makin deras, jadi kami nyari musholla buat make jas hujan, sekalian mau pip*s karena udaranya sudah mulai dingiin. 10-15 menit kemudian kami kembali menerabas jalan. Gerimis mulai mereda, tapi ketika kami memasuki daerah lengkong-jampang kulon, hujan deras dan angin cukup besar datang menyapa kami. Jam 9.50 Kami melipir ke depan indomar*t nungguin ujan agak mereda atau minimal anginnya yang ilang. Beberapa menit kemudian kami memutuskan pergi dari situ karena perjalanan sudah mulai mendekati titik akhir. Ga sampai 40 km lagi, wkwkwk.

Alhamdulillah jalanannya cukup mulus sehingga perjalanan tidak terlalu berat meski diguyur hujan deras. Kalau sudah sampai Surade, berarti ente sudah mulai somplak pinggangnya, Hahaha. Dan itu artinya bentar lagi udah sampe Ujung Genteng. Kata bapak2 yang kami Tanya: lurus aja, jangan belok-belok, sampai mentok ketemu laut. Semudah itu cyiin… *sarkas dikit*

Saya bersorak gembira ketika melihat gerbang yg ada tulisan Ujung Genteng. Di sini juga saya agak-agak khawatir sama biaya retribusi mengingat kisah pahit di Jatilluhur beberapa waktu yg lalu.

“8 **** ribu pak…”

Heh? 8 ribu atau 80rb? Masa’ sih 8 rb? Murah amat. Tapi klo 80rb kebangetan amat?

Setelah menanyakan kembali ke petugas di loket, Alhamdulillah ternyata retribusi utk masuk ke kawasan ujung genteng itu memang cuman 8.000 perak. Hidup ujung genteng! Haha. Saya gak sempat liat list harga untuk mobil, karena posisinya masih hujan deras dan saya udah pingin nyari penginapan. :D

Lalu kami melaju kembali dengan tujuan mencari penginapan. Kami liat beberapa papan penginapan di jalan-jalan. Jika kamu melihat petunjuk penginapan sebelum melihat laut, jangan ikuti petunjuk itu! Karena jalannya asli jelek banget. Mending kalian tunggu sampai ketemu laut, lalu ikuti saja jalan yang sudah dibuat. Jalannya lebih baik, meski tidak mulus.

Kalau kalian membiasakan riset aka searching sebelum pergi ke suatu tempat, maka yang paling difavoritkan dan direkomendasikan oleh para pengunjung Ujung Genteng adalah Pondok Hexa. Kalau kalian punya banyak duid sih silakan pesan di sana. Haha. Karena waktu kita coba nanya ke resepsionisnya, harga kamar non-AC (karena tinggal kamar itu aja di sana) adalah 350 rb. Mungkin karena lagi peak season ya harganya segitu, tapi saya yakin ada penginapan yang harganya lebih masuk akal.

Kami keluar dari komplek pondok hexa dan saya minta si kakak buat masuk ke Mama’s Losmen, yang letaknya di samping Pondok Hexa. Alhamdulillah, kami dapat kamar AC dengan harga 250rb (Harga normalnya sih 350rb, tapi kami nawar. hehehe). Memang ada beberapa kekurangan dari segi kamar, misalnya ada sedikit bocor di pojok kamar. Tapi saya rasa dengan harga segitu itu sudah sangat worth it. Ditambah lagi, pengurus losmen yang sangat ramah dan memberi kami air panas dalam termos, gelas, teh, dan gulanya. Motor kami juga diberi tempat parkir “VIP” agar tidak kehujanan. Mungkin ini karena si kakak ngajak ngobrol bapak pengurus losmen pake Bahasa sunda. Hehe.

This slideshow requires JavaScript.

Jam 11.40an, kami sudah bisa meluruskan punggung dan pinggang sembari menanti adzan dzuhur. Ba’da shalat, saya nyari makan siang di depan penginapan. Karena suasananya masih hujan, jadi saya malas jalan agak jauh untuk nyari makan. Saya pesan Mi Rebus untuk berdua (si kakak 2 bungkus dlm 1 mangkuk), dengan harga total Rp 15.000,-. Alhamdulillah penjualnya bisa ngasih servis delivery order ke kamar. Jadi setelah saya bayar, saya langsung ngacir ke kamar. Tidak berapa lama makan siang datang, kami langsung makan. Abis itu ngegoler di Kasur, sambil ngecas henpon, dan dengerin lagu dari MP3. Kami memutuskan untuk istirahat saja siang itu karena percuma jika mau memaksakan diri keluar. Masih hujan cyiin….

Cerita selanjutnya adalah explore the beach turtle…

11 thoughts on “Touring Bandung-Ujung Genteng #1

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s