Touring Bandung-Ujung Genteng #2

2 januari 2015

Pas jam 3 sore, saya terbangun di antara dengkuran halus si kakak di belakang telinga saya. Baru saja saya melek, terdengar teriakan orang di sekitar pantai dan suara sapu di halaman penginapan.

“jangan-jangan udah cerah nih…” pikir saya. Saya langsung menyibak tirai jendela dan benar! Matahari sudah mulai menghangatkan tanah meski masih malu2. Saya langsung beres2 dan tidak lupa membangunkan kakak yg nampak masih menikmati tidur siangnya.

Kami sore itu langsung menuju ke Pantai Pangumbahan, pantai yang terkenal dengan episode pelepasan tukik di sore hari. Saya tentu tidak mau ketinggalan momen itu karena saya pergi ke Ujung Genteng ini memang pingin liat tukik itu. Penasaraaann… :p

Kami naik motor menuju pantai tsb, tanya saja dengan penduduk asli situ pasti mereka tau dan gak pelit ngasih petunjuk arah. Jalan menuju pantai tsb ternyata sangat menantang (jika tidak mau dibilang jelek, wkwkwk) karena didominasi oleh bebatuan yg ukurannya ga nanggung2 dan saya liat sekilas sih sepertinya cukup tajam. Saya rada khawatir sama ban motor karena bisa-bisa bannya meletus. hehe. Tak hanya itu, di  beberapa ruas jalan kami juga disambut dengan genangan air banjir setinggi betis laki-laki dewasa. Lagi2 saya parno klo misalnya motor yang kami naiki tiba2 tumbang dan baju, kamera, serta gopro pinjeman yg saya pegang itu rusak semua -___-“. Alhamdulillah berkat kelihaian si kakak bawa motor, kami selamat sampai tujuan.

Sesampai di sana saya langsung ke loket, beli tiket yang harganya rp 10.000/orang. Mengenai tiket, sebelum saya ke sini saya dapat isu bahwa harga tiket untuk melihat proses bertelurnya penyu di malam hari adalah Rp 150.000/orang, saya langsung melihat spanduk kecil di samping loket utk memastikan isu itu. Dan ternyata benar… Harganya 150 rb/orang. Cih.

Tapi setelah saya pikir2, mungkin itu ada tujuan khususnya yaitu menjaga agar tidak terlalu banyak pengunjung yang datang wkt si penyu bertelur. Kebayang kan klo misalnya yg cewek2 di sini lagi ngelahirin trus ada rombongan makhluk asing yg dateng untuk ngeliat proses kalian ngeden. Kan gak bagus buat psikologis si ibu dan telur anak. Hehe. Saya sih setuju2 aja, tapi saya jadi ngelus dada agar legowo karena saya belum jadi manusia yang mencapai financial independence #halah pret

Waktu kami sampai lokasi itu, pengunjungnya masih sepiii… Baru ada beberapa mobil dan komunitas motor vespa yang entah bagaimana caranya bisa selamat dan utuh kendaraannya sampai sana. Hehe. Saya dan kakak langsung ke lokasi pantai dan well… Pantainya biasa saja saudara-saudara… Terus terang saya mikir “seriusan pantainya inih? -__- ” kalau gak ada si tukik2 itu saya gak mau balik lagi ke Ujung Genteng. Serius. Kalau kalian mau wisata pantai, mending kalian ke pantai lain aja. Misalnya Pantai Santolo, yang hingga sekarang masih jadi the best beach ever di Jawa Barat. Nggak kalah sama Pantai Liang di Ambon. Atau klo gak, ke Pantai Ranca Buaya yang konon jadi lokasi syutingnya Perahu Kertas (yg saya gak pernah nonton filmnya).

Jam 5, pengunjung yg awalnya hanya belasan berubah menjadi ratusan orang. Dan meski sudah ada papan peringatan untuk tidak main2 di laut masih ada saja anak-anak alay (yg sebenarnya sudah sangat bangkotan untuk disebut sebagai anak-anak) yang mandi2an. Padahal ombaknya itu nyeremin banget, bisa buat surfing kali itu… -__-“. Saya cuman duduk-duduk di batang pohon yang sudah lapuk, jauh dari bibir pantai sambil ngobrol2 sama si kakak.

Sekitar jam setengah 6, beberapa petugas terlihat membawa bak berwarna hitam dan beberapa orang di antaranya membuat garis yg tidak boleh dilewati oleh pengunjung karena di situ adalah wilayah si tukik2nya mau dilepas. Ingat ya saudara2, pengunjungnya itu ratusan mulai dari anak-anak, abg alay, mahasiswa, sampai om2 dan tante2. Oya, ada juga bapak2 biksu yang menjadi guide rombongan bule.

Saya kan terobsesi buat ikut megang tukiknya ya kyk di blognya orang2 (haha), tapi melihat kondisinya sangat crowded begitu, saya langsung pesimis. Kayaknya gue salah milih waktu buat main ke sinih =..=. Jadilah saya waktu itu cuman ngeliatin si tukiknya dilepasin sama petugasnya. Huhuu… *lambai2kan tangan ke tukik yg lucu*

Sedikit tips buat kalian yg pingin ngeliat tukik dg lebih leluasa: Pilihlah lajur sebelah kiri ketika ada adegan pelepasan tukik karena petugasnya gak akan sampai ke ujung sebelah kanan. Dan saya ada di ujung kanan… =__=

Kalau ingin melepaskan tukik kyk di blog2nya orang, mending ke pantainya jangan di long weekend kyk saya kemaren. Dijamin cuman bisa gigit jari kyk sebagian besar orang indonesia sekarang ini.

Mending kalian nunggu sampai berjamur di pantai daripada loss moment karena adegan pelepasan tukik itu gak sampe 5 meniiiittt…. :v

Setelah itu saya dan si kakak langsung balik lagi ke penginapan karena takut hujan lagi dan macet karena pengunjungnya ada ratusan dengan puluhan mobil dan motor. Saya waktu itu cuman pasrah aja, abis pelepasan tukik yang menyedihkan itu, saya gak ngarepin apa2 lagi, saya cuman pingin makan abis itu mandi, shalat, bobok.

Kami langsung ke gerobak nasi goreng yg kami lewati waktu mau ke pangumbahan, rencananya mau beli nasi goreng. Eee… Gataunya, waktu kita sampe sana langit di ujung barat yang pas banget di depan nasi goreng itu, lagi siap2 ngelukis sunset. Masyaallah… #wowmazing banget. Saya seumur2 ke pantai, baru pertama kali ini dikasih hadiah sunset yang luar biasa keren kyk gini sama allah. Alhamdulillah…

Setelah saya kasih pesenan ke abang nasgor, saya langsung nyusul kakak yg udah jongkok sama nungging2 duluan buat motret sunset.

Di penghujung hari kala itu, saya menyadari satu hal bahwa allah memberi hadiah pada saya, pada kami, setelah banyak menghadapi hujan deras plus angin kencang, banjir, jalan jelek, pant*t dan pinggang somplak. Untuk masalah beginian aja kami sabar, masa’ untuk ujian hidup yang lain kami jadi lembek… Ya gak? Eh, iya gak sih? #halah

Lalu kami melenggang ke penginapan bersama nasi goreng yg masih panas dan hati yg dipenuhi lukisan sang maha. Klo gak malu sih pingin joged-cuci-kucek-jemur sambil nyanyi lalala… Yeyeyeye…. :v

Malam itu berakhir dengan perut kenyang dengan 1 porsi nasi goreng. Jarang2 saya sanggup ngabisin bungkus nasgor porsi kuli. Besok paginya, kami langsung cabut ke bandung. Kira2 kami balik jam setengah 7 dan sampe rumah jam 2 siang lewat sekian menit.

Sayonara ujung genteng…Saya balik lagi ke sini klo udah punya mobil. Hehehe.

Rincian Biaya Motor Touring Bandung- Pantai Ujung Genteng Sukabumi

Hari 1
Bensin Shell Super 100.000
Air minum 8.000
Makan Siang di RM Padang 30.000
Mangga 2 kg 25.000
Sub total hari 1: 163.000
 
Hari 2
Retribusi Masuk ke Pantai Ujung Genteng 8.000
Penginapan 250.000
Ngemil Mie Rebus 15.000
Tiket Masuk ke Pantai Pangumbahan 20.000 (@ 10rb)
Air minum 600 ml  4.000
Bayar Parkir  5.000
Nasi Goreng 2 porsi 22.000
Pocari Sweat dll 19.000 (ceritanya jajan haha)
Sub total hari 2: 343.000

Hari 3
Bensin pertamax 50.000
Sarapan roti sobek & susu 22.000
Makan siang 32.000
Sub total hari 3: 104.000

Total pengeluaran: Rp 610.000

Banyak juga ya… pantesan bokek. haha

7 thoughts on “Touring Bandung-Ujung Genteng #2

  1. Pantainya bagus itu, Mbak. Pasir dengan sesemakan di kejauhan. Segar hijau dengan kuningnya pesisir. Beda dengan pantai-pantai yang saya temui selama ini. Ya, ya, pesisir selatan memang berbeda :D
    Dan, sunsetnya itu maaaak. Spektakuler. Oranye dan siluet sempurna. Pantas disebut golden hour :D
    Mudah-mudahan infrastruktur jalannya sudah diperbaiki kalau saya berkesempatan ke sana :amin :haha

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s