Membeli Rumah Sesuai Syariah Dengan Keras Kepala

yg mau mampiirr... yg mau mampiirr.... =))

yg mau mampiirr… yg mau mampiirr…. =))

Saya bisa jadi orang yang paling keras kepala jika sudah sangat ingin mendapatkan sesuatu atau yang berkaitan dengan idealisme. Dan yang mau saya bahas di sini adalah tentang rumah.

Dulu (setelah saya menikah, red) saya ingin punya rumah dekat pusat kota dan ingin menggunakan akad sesuai dengan syariat yaitu dengan akad murabahah atau jual beli dan tentu saja di Bank Syariah. Namun karena harga rumah di daerah Kota Bandung sudah tidak masuk di akal kantong maka saya menurunkan spesifikasi rumah yang diinginkan, yang penting akadnya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh agama yaitu menjauhi riba. Meski pada praktiknya, belum ada bank syariah yang benar-benar syariah.

Kata teman saya yang menjadi praktisi bank, akad jual beli di bank itu juga gak jelas statusnya. Karena kita bayar DP ke developer, kemudian kita kreditnya ke Bank. Jadi pihak pertama (penjual) itu sebenernya Bank atau developer? Ya begitulah kira2 penjelasan yg disampaikan dalam pertanyaan. Tapi hemat saya, di tengah kondisi yang tidak se-ideal jaman Rasulullah kayak gini, kita wajib melakukan ikhtiar di titik maksimal. Dan dalam kondisi saya saat ini, titik maksimalnya adalah make jasa bank syariah. Well, ada sih Developer yang menerapkan sistem syariah. Jadi proses pembayarannya itu langsung ke developernya, tidak memakai jasa bank sama sekali. Tapi setau saya developer yang sebaik ini baru ada di Bogor dan sekitarnya. Sedangkan saya tinggal dan  kerja di Bandung. Gak mungkin dong saya maksain beli rumah di Bogor sedangkan mata pencaharian saya di Bandung.. ya kan? ya kan? plis atuhlah developer syariah itu cepet2 buka lapak di Bandung tercintah =_=

Kami waktu itu tidak punya apa-apa selain doa dan ikhtiar Da gajinya mah gak segede Gubernur BI. Waktu itu akhirnya saya dan si kakak memutuskan untuk membeli rumah di Kabupaten Bandung Barat. Alasannya:

  1. Harganya masih bisa dicerna sama akal sehat
  2. Masih banyak areal sawah (meski gak tau juga sih ini akan bertahan berapa lama)
  3. Airnya bersih dan banyaakkk. Ini penting!
  4. Udaranya juga dingin dan segar. Ini juga penting!
  5. Dekat perbukitan. Bisa cuci mata dikit.
  6. Tidak bising seperti di perkotaan. Yang mana sekarang saya sudah cukup muak dengan suara berisik.

Kekurangannya? Jauh dari pusat kota jadi susah mau foya2 #eh =)). Foya2 di sini definisinya adalah nonton bioskop 1x/bulan ama motor2an keliling Bandung. Kalo sekarang yang saya masih numpang di rumah dinas mertua persis di sebelah Tol Pasteur. Tapi rumah di kabupaten itu lumayan deket sih klo mau ke Ciwidey *pembelaan* haha. Jauh juga dari kantor, tapi temen kantor saya banyak ding yang tinggal di sekitar situh. Malah banyak yang lebih jauh *lagi2 pembelaan. Biarin :p*

Saya masih ingat DPnya cuman 10% klo di BT*, tapi karena kita ngajuin ke Bank Syariah yg brandnya warna ungu gonjreng2 tea… jadi DPnya melonjak 2x lipat, plus kelebihan tanah. Di perhitungan awal DPnya sekitar 25 jutaan. Iya, memang murah harga rumahnya, gak luas2 banget juga tanahnya :D. saya juga inget kalau waktu itu pertama kali bayar booking fee adalah di Bulan Februari 2014 dan katanya perkiraan selesai bangunnya di Bulan Mei-Juni 2014. Tapi yang namanya juga perkiraan pembangunan, udah pasti molor. Saya mah udah maklum karena sering handle project bangunan beginih.

Singkat cerita, pembangunan baru selesai di September 2014. Haha. Waktu molornya pembangunan itu menguntungkan kami karena kami cuman bisa menyisihkan sekitar 2 juta/bulan. Wkwkwk. Di Bulan September, kami belum bisa melunasi dana itu. Tetapi lagi-lagi Allah seperti memberi jalan kepada kami, yaitu Bank yang kami tuju tidak mau memproses ajuan jika rumah tersebut belum selesai seluruhnya, termasuk soal listrik dan air. Jadi tipikal Bank Ungu ini (dan mungkin bank2 syariah yg lain) kalau mau akad, ya rumahnya harus udah siap huni. Alhamdulillah, PLNnya lama. Hahaha. Jadi weh kita baru dikasih tau kalau Banknya udah approve dan lain-lain itu di Bulan Januari 2015 *ketawa lagi*.

Saat masih nungguin PLN ngalirin listrik, kami mendapatkan banyak godaan #aseekk. Jadi si developernya itu bilang bahwa calon nasabah bank ungu yang lain itu mengundurkan diri semua. Saat itu kami dirayu2 sama developer dan juga tentu saja mertua. Mungkin karena gak sabar kali ya… ngurus rumah seuprit aja susah beneerr. Tapi alhamdulillah saya waktu itu masih keras kepala.

“Nggak. Di bank ungu aja.” ucap saya waktu itu. Dan alhamdulillah, si kakak juga mendukung.

Tibalah di Januari, waktu kita dateng lagi ke developer, kita diberi fakta mencengangkan bahwa kita harus “nombokin” DP 15 jutaan lagi. Mampus dah gue. Tapi waktu itu saya pasang muka datar aja dan cuman menegaskan kapan deadline-nya. Dan deal, disampaikan bahwa paling lambat 1 bulan dari hari itu. Oke, waktu itu kami langsung pulang. Dan mikir, duidnya sapa nih yang bakalan dirampok? Minjem duid dimana lagi nih? Hampir desperado juga sih kayaknya waktu itu. Tapi lagi-lagi saya cuman mengandalkan doa “Ya Allah, kami hanya ingin memiliki rumah sesuai dengan syariatmu. Kami ingin menjauhkan diri dari riba. Jika Engkau meridhoi, kami mohon lancarkan prosesnya…”

Alhamdulillah ala kuli haal… rejeki ngalir begitu aja, saya bongkar uang yang saya kumpulin dikit2 buat jalan2, ada bonus juga dari kantor. Satu pekan setelah kita pergi dari kantor developer dengan muka kelipet2 kami datang lagi dengan dagu terangkat. Alhamdulillah DP udah lunas, tinggal duid buat biaya proses di Bank. Yang ini juga kami selesaikan selama 1 minggu. Si kakak minjem dari adeknya dan minjem juga ke mertua. Ribet gak tuh duidnya? Hehe :v.Mungkin untuk sebagian orang, duid 40 juta itu tinggal nyisihin gaji 4-8 bulan ya…. Tapi buat kami, yang golongan menengah ke bawah ini, duid segitu adalah duid yg banyak :p.

Setelah berdarah-darah… akhirnya tgl 20 Februari 2015 kemarin, kita (akhirnyahhh!) akad KPR juga di Bank Ungu Cabang Buah Batu. Dan tau gak? Kami memang satu-satunya nasabah yg KPRnya di Bank Ungu. Dan… kami juga yang menjadikan developer inih (akhirnya) kerjasama dengan Bank Ungu karena selama ini gak ada yang (keras kepala) seperti kami.

Anyway… semua yang saya sampaikan di atas untuk berbagi ke para pembaca semuanyah. Bahwa benar, Allah akan menyertai ikhtiar kita selama ikhtiar tersebut untuk menujuNya.

Semoga menginspirasi :p.

56 thoughts on “Membeli Rumah Sesuai Syariah Dengan Keras Kepala

  1. Saya menggaris bawahi tulisan ini mbak :)) “Allah akan menyertai ikhtiar kita selama ikhtiar tersebut untuk menujuNya.” dan memang iya, Allah nggak akan lupa sama janjinya kan ya :D

  2. Alhamdulillah… Semoga barakah ya, Ncuss…

    Aku malah udah ada rumah tapi belum ditempatin…
    Padahal dah kepengen deh tinggal di rumah sendiri…
    Hehehe…

    Semangat, Ncuss… Ditunggu postingan pindahan dan isi mengisi rumahnya…
    Semoga dilancarkan pembayaran cicilannya yaa (aku ya ngerasain ngos2annya, hahaha)

  3. Ayo semangat berikhtiar untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat! Somehow saya jadi semangat baca tulisan ini. Selama niat baik, untuk hasil yang baik, dalam usaha baik dan diiringi doa yang juga baik, apa yang kita maksudkan pasti tercapai.
    Terima kasih sudah menginspirasi!

  4. Wah, lumah baluuu..

    Oya, biasanya kan ada akad wakalahnya juga. Bank wakilin nasabah buat bayarin rumahnya ke developer. Jadi, nasabah beli rumah yang sudah dibeli oleh bank dari developer. So, rumah itu sudah pindah kepemilikan ke bank (pihak pertama). Cmiiw, eh. =))

  5. Mantep ini… Paling males kalo pas ngotot mau akad rumah ke bank syariah, dikomen orang dgn kalimat, “Ah, semua bank kan sama aja, bunga juga…” Emang mayoritas developer maennya konven sih.

  6. Kabayang bagjana tah…
    40 jt..?? waaah eta seueur pisa teeh..

    Waktos teteh ngagaleuh bumi di dieu oge, dag dig dug der.. Alhamdulillah janten oge, dikereyeuuh we sakedik-sakedik.. :)

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s