Tertampar

Minggu lalu saya dan tim motret nikahan di salah satu gedung di Kota Bandung. Yang menikah adalah seorang aktivis berjilbab lebar di Kota Bandung yang usianya sudah matang utk menjalin mahligai rumah tangga. Saya benar-benar hanya tau The Bride, while the groom saya cuman tau namanya aja dari undangan yang ia kirimkan agar kami, sang fotografernya, gak nyasar :D.

Ketika saya sedang memotret proses make up sang calon mempelai perempuan, saya ajak T (sebut saja begitu) ngobrol2 soal siapa calon suaminya. Pertama agar T rileks sehingga ekspresi2 naturalnya keluar ketika saya motret tanpa harus diinstruksikan sama saya. Kedua karena memang kepo #eh :p. Ternyata Z (sebut saja begitu ya calon mempelai laki2nya) berasal dari Ambon. Aaaakk…. Kota yang pantainya ngangenin >,<. Dan Z bekerja di Papua. Waw, Jauh banget kan?

Sekitar jam setengah 9, Z datang bersama rombongannya. Dan sosok Z memang memperlihatkan beliau berasal dari salah satu kawasan Indonesia timur. Prosesi akad nikah di masjid dekat gedung berlangsung dengan cukup menegangkan karena Z harus mengulangnya beberapa kali. Setelah semua ritual selesai, sang pasangan pun berjalan menuju gedung. Di saat itu, saya benar-benar menangkap cinta di mata T. Kau tau kan ketika seorang perempuan sedang dimabuk asmara, lalu ia tersenyum lepas sambil merengkuh lengan kekasihnya? Bola matanya menunjukkan cinta, kasmaran!

buket bunga di pernikahan T dan Z -karena foto pengantinnya masih jadi top secret :p-

buket bunga di pernikahan T dan Z
-karena foto pengantinnya masih jadi top secret :p-

Saat itu hati saya bergetar, kamera saya pegang erat2 just in case tiba2 terjatuh karena loss fokus. Saat itu pula saya berfikir banyak sembari terus berlari mengiringi sang pengantin berjalan dan memotret mereka.

  • Di jaman sekarang, jumlah manusia yang mau say YES ke laki-laki/pasangan yang tidak dikenal dengan baik utk menjadi suaminya masih cukup jarang.
  • Ditambah, laki-laki/pasangan tersebut dari budaya yang jauh berbeda.
  • Ditambah memiliki pekerjaan di ujung Negara
  • Ditambah dengan penampilan fisik yang mungkin saja menurut sebagian besar dari kita JAUH dari kategori tampan atau cantik. Sampai detik ini saya masih berpendapat bahwa fisik adalah salah satu faktor utama bagi sebagian besar orang untuk berkata “YA”. Ngaku deh, temen2 di sini milih suami dulu pertimbangannya apa? Pasti fisik menjadi salah satu faktor yang cukup (jika tidak mau disebut “sangat”) dipertimbangkan.
  • Ditambah dengan kekurangan fisik lain. ya, benar, tak hanya beberapa hal di atas, ditambah pula dengan yang ini. Buat saya hanya sosok hebatlah yang berani mengatakan “YA”. Dan itu semua terkumpul pada sosok T.

setelah mikir ini, i stole a glance to my husband and wondered how “perfect” he is. Saat itu, saya benar2 merasa tertampar >,<. Jam 2 siang, tugas kami selesai. Saat berpamitan, ucapan T lagi2 menampar-nampar wajah saya.

“Barakallah ya T..” kata saya dan si kakak.

“Makasih ya Teh Ncuss dan Kang Wicak… blablabla… blablablabla….. Pingin banget kayak Teh Ncuss dan Kang Wicak yang jalan-jalan terus”

Yes, it slapped me right on my face. Allah showed me how others saw my (our) life. Ternyata hidup saya yang compang-camping ini terlihat “sempurna” di mata orang lain. Dan Allah sangat sayang sama saya dengan menghadirkan dialog ini di salah satu fragmen hidup,,, karena dengan ini DIA memaksa saya untuk mengkuadratkan bilangan syukur saya.

And for you, T.
I pray from the bottom of my heart for your happy ever after marriage, from this world until afterlife. Aamiin. J

27 thoughts on “Tertampar

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s