Tiga surat terakhir

It’s been a while since my last post here :D
Saya memutuskan untuk tidak menulis di sini karena saya cukup sibuk dengan pindahan rumah, flu-demam-batuk di awal Ramadhan (hingga sekarang!), pekerjaan yang semakin banyak saat Ramadhan kemarin, adaptasi dengan kehidupan baru, dan banyak hal lain. But even so, saya menjalani Ramadhan yang cukup hebat. Dan yang paling berkesan adalah ketika saya I’tikaf di Masjid Habiburrahman, di malam ke 29.

Saat I’tikaf terakhir kemarin, saya akhirnya bisa bertahan dalam shalat malam yang durasinya 2,5 jam, dari jam 1 sampai setengah 4 (pagi, tentu saja). It was for the first time in forever karena saya tidak terlalu kuat berdiri selama itu. Bahkan saya sempat oleng di rakaat ke delapan (waktu itu masih jam 3 alias baru 2 jam berdiri), saya waktu itu berfikir

“Allahu akbar, kamu kuat ncuss… harus kuat ih, maluuu masa’ cuman 2,5 jam gak bisa, padahal pernah naek ke semeru berjam-jam dan gak ngeluh”

Saya juga sempat berfikir alay “pokoknya aku gakmau nyerah sholat malam kali ini, kalau mau pingsan ya pingsan aja deh.” –dan alhamdulillahnya saya gak pingsan :p-

Saya waktu itu memaksa diri utk berdiri karena ingin sekali merasakan bagaimana dulu Nabi Muhammad sholat malam dari jam 1 pagi hingga hampir subuh. Dan rasanya? Hanya orang2 kuat yang bisa melakukannya, dengan khusyu’ dan juga Istiqomah hingga akhir hayat. Karena itu pula saya akhirnya mengerti bagaimana bisa kaki Rasulullah bengkak karena sholat malam T.T. Dan ya, saya semakin mengaguminya, Manusia Teladan, Sang Al Qur’an Berjalan.

Bermalam di Masjid Habiburrahman ketika Ramadhan adalah hal istimewa untuk saya dan untuk orang-orang yang mengenal masjid ini. luasnya masjid, tenda2, dinginnya air dan angin, suara tilawah, dan terutama lantunan bacaan sang imam yang kami sayangi: Ustadz Abdul Aziz. Beruntungnya saya karena pernah satu perjalanan ke Semeru bersama beliau dan keluarga. J

Sholat malam terakhir kemarin, surat yang dibaca setelah Al fatihah di rakaat pertama adalah Al Mulk di Juz 29. Dalam satu rakaat, Ust. Abdul Aziz melafalkan 2-4 lembar al qur’an dengan bacaan yang tartil dan suara yang menggetarkan hati. Sesekali hafalan beliau dikoreksi oleh 2 hafizh lain di belakangnya. Di rakaat kelima, kami sudah sampai di Juz 30, surat An Naba’. Kami memegang erat2 al quran di tangan masing2 dalam sholat2 kami.

Di rakaat ke 7, kami sudah sampai di pertengahan juz 30. Di rakaat ke 8, atmosfer dalam masjid tiba menjadi semakin berat, seakan ada masjid itu penuh dengan jamaah tanpa ada ruang untuk bernafas. Di surat Al Ashr,

“Demi Masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian…”

i'tikaf di masjid habiburrahman

i’tikaf di masjid habiburrahman

Kami tiba2 menitikkan air mata pertama kami, padahal surat ini sering dibaca dalam sholat2 fardhu. Tapi saat itu rasanya sangat berbeda. Kami seperti baru mendengar ada surat yang mengingatkan ttg waktu. Dan Ramadhan adalah tentang waktu yang hanya sedikit. Saat itu saya kembali teringat pada umar bin khattab, yang dimarahi oleh Abu Bakar Ash shiddiq dengan dibacakan salah satu ayat al qur’an karena menolak kabar bahwa Nabi Muhammad wafat. Waktu itu Umar merasa bahwa ia seperti baru pertama kali mendengar ayat itu. T.T

Di rakaat ke delapan, ketika Imam melafalkan tiga surat terakhir,

“Qul Huwallahu ahad…”
suara tangis semakin keras dan menggema di sudut2 masjid. Saya pun tak kuasa menahan tangis, saya ikut larut dalam tangis haru dan kesedihan.

“Qul a’udzubirabbil falaq…”
Air mata semakin deras mengalir, membasahi pipi dan menetesi mukena dan kerudung yang dipakai.
Ya Allah, Malam-malam Ramadhan akan berakhir.

“Qul a’udzubirabbinnas…”
Tangisan semakin “histeris” (dan kami baru tahu ada jamaah yang pingsan di rakaat kedelapan ini ketika sedang sahur dengan mata yang masih sembap).

“Shadaqallah….”

Allahu akbar, saya tidak bisa menggambarkan bagaimana suasana sholat malam kala itu, semuanya menangis. Saya pun masih merinding dan berlinangan air mata ketika membayangkan rakaat ke 8 itu.

Dan ustad abdul aziz melanjutkan rakaat ke 8 itu dengan doa yang panjang, doa yang membuat kami semakin tunduk dalam tangis. Rakaat terpanjang dan terlama dalam sejarah hidup saya :D.

Taqobbalallahu minna waminkum, shiyamana washiyamakum. aamiin.

Mohon maaf lahir batin ya teman-teman ^^
Happy ied mubarrak

p.s
Qiyamul lail di 10 malam terakhir di masjid ini didedikasikan utk mengkhatamkan 30 juz dalam Al Quran. Which means, Imam sholat membaca 3 juz dalam 1 malam. Dan sepanjang saya tahu, imamnya selalu ustadz Abdul Aziz padahal beliau tinggalnya di Jakarta.

14 thoughts on “Tiga surat terakhir

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s