Surat Cinta Untuk Kartini: Cerita Cinta Yang Santun

Film ini saya tonton bareng dengan barudak Blogger Bandung di Blitz Megaplex Miko Mall – Kopo Bandung. Sesuai judulnya, film ini tentang kisah cinta – fiksi, tentunya- yang terjadi di jaman ibu kita Kartini. actor utamanya adalah Sarwadi, Duda dari kalangan rakyat jelata yang berprofesi sebagai Pak Pos dan memiiki 1 anak. Pemerannya: Chicco Jericho. Sedangkan Kartini, seperti yang diceritakan dalam sejarah, ialah seorang anak kalangan nitrat yang bercita-cita membuat sekolah untuk perempuan. Pemerannya itu Rania Putrisari, artis pendatang baru yang baru pertama kali main film.

Plot ceritanya cukup simple yaitu cinta antara laki-laki biasa dengan seorang perempuan bangsawan yang gak kesampean. Sarwadi jatuh cinta kepada Kartini ketika melihatnya pertama kali saat mengantarkan surat di rumah Kartini. Sarwadi juga membantu Kartini untuk mencari tempat utk mengajar anak-anak. Tapi kemudian semuanya hancur karena Kartini dikabarkan menjadi isteri ketiga Bupati. Sarwadi lalu pindah ke kota lain bersama anaknya untuk melupakan kenangan bersama Kartini.

Cerita ditutup dengan anak Sawardi yang meneruskan perjuangan Kartini dengan mengajari tetangga-tetangga Sawardi membaca, menulis dan berhitung di rumah barunya. Keduanya lalu ingin mengunjungi Kartini di Rembang, mau silaturahim gitu deh. Namun sayang ketika mereka sampai di stasiun Rembang pengemudi delman memberi tahu bahwa istri ketiga Bupati Rembang meninggal setelah melahirkan, yang tidak lain adalah Kartini. *spoiler abis ya ini postingannya*

Saya menikmati film ini dari awal sampai akhir. Saya suka dengan akting Rania yang bisa

surat cinta untuk kartini

abis nonton, minum susu di upnormal

membawakan Kartini yang anggun, kharismatik, lembut dan baik hatinya. Tingkah laku para bangsawan tanah Jawa pun digambarkan dengan baik oleh para tokohnya. Saya terkagum-kagum melihat sikap tubuh Kartini dan adik-adiknya yaitu waktu mereka sedang bercengkerama di teras rumah dengan punggung yang tegak lurus. Jaman sekarang mana ada sih yg mau duduk model begitu? Kalau saya mah pasti udah senderan, kaki kanan diangkat dan ditaruh di kursi sambil ngemil keripik :p.

Di film ini juga disuguhkan bagaimana cara anak menghormati ayah dan ibunya ala bangsawan Jawa jaman dulu. Jadi anaknya duduk di lantai dan ayah ibunya duduk di kursi. Kalau mau mendekat ke ayah atau ibu, si anak gak boleh berdiri dan jalan cantik kayak jaman sekarang. Mereka harus berjalan dengan lutut yang tetap tertekuk. Kayak nonton film kerajaan ala korea gitu deh. Hehe.

Yang terakhir, saya juga suka sekali dengan senyum Kartini ala Rania. Senyumnya itu bikin hati saya melting. Cantik sekali.

Jpeg

pemainnya juga dateng buat menyapa kita

Menurut saya film ini bisa menjadi alternatif tontonan yang menarik buat keluarga karena tema cinta yang diangkat itu cinta yang santun, nggak agresif atau norak. Khas banget cerita cinta jaman kakek-nenek kita jaman dulu, hehe. Kalau sekarang filmnya udah nggak tayang di bioskop sih ya… jadi kalau penasaran, kudu sabar nunggu film ini nongol di TV :D

13 thoughts on “Surat Cinta Untuk Kartini: Cerita Cinta Yang Santun

Ciyee yang maunya jadi silent readers, tinggalin komen dong ah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s