Jalan-Jalan Di IKEA Alam Sutera

Jpeg

area layanan mandiri

Percaya atau tidak, berkunjung ke IKEA Damansara adalah salah satu rencana saya ketika kami jalan-jalan ke Malaysia 3 bulan lalu. Mungkin terdengar aneh dan kurang kerjaan karena udah ada IKEA di Alam Sutera – Tangerang yang terbilang dekat dibanding yang di Kuala Lumpur. Tapi namanya juga manusia, yang dekat malah tak terjamah dibanding yang jauh dari mata, hehe. Rencana saya ke IKEA Damansara itu jadinya nggak kesampean alias gagal total karena saya udah terlanjur sekarat akibat sakit pinggang kebanyakan jalan kaki. LoL.

Alhamdulillahnya, saya (dan suami) dikasih job motret wedding 2 hari berturut-turut di Tangerang minggu kemarin. Di hari pertama kita cuma motret akad nikah aja jadi ada waktu luang yang cukup banyak buat kita. Nggak pake lama, kita langsung planning buat main ke IKEA. Saya beneran pengen banget ke IKEA karena penasaran setelah liat2 katalognya di web dan saya udah punya beberapa barang lucu tapi tetep fungsional dari IKEA yang bikin rumah saya sedikit lebih baik interiornya.

Sabtu sore, 1 oktober 2016, Continue reading

Wajah Baru Bandara Husein Sastranegara – Bandung

Dulu, Bandara Husein ini kayak terminal bis. Kecil dan sederhana banget isinya. Seinget saya, bandara ini gate-nya cuman ada 1, jadi nggak bakalan nyasar ke gate laen, haha. Ruang tunggunya juga kecil. Bagian imigrasi cuman ada 1 petugas. Tempat pengambilan bagasi juga cuman ada 1. Nah, bulan April taun lalu waktu saya jalan-jalan ke Singapura, bandara ini masih dalam proses renovasi yaitu penambahan bangunan di sebelah kanan bandara eksisting. Jadi waktu itu kita masih make bangunan Bandara lama.

Rasa penasaran saya terhadap perubahan Bandara Husein terpenuhi minggu lalu waktu saya dan suami jalan-jalan ke Malaysia (lagi) dan lewat bandara ini. Tahun ini para penumpang sudah bisa menggunakan bangunan baru Bandara Husein yang penampakannya sudah seperti Bandara modern :D. sedangkan bangunan lama bandara sekarang masih dalam proses renovasi, jadi gentian gitu renovasinya biar operasional bandara tetap bisa berjalan dengan normal.

Bangunan Lama (2015) dengan Bangunan Baru (2016) Bandara Husein Sastranegara

Bangunan Lama (2015) dengan Bangunan Baru (2016) Bandara Husein Sastranegara

Ketika masuk ke Bandara, kita disambut dengan pintu keberangkatan di bagian kiri dan pintu kedatangan di bagian kanan. Continue reading

Rekomendasi Kuliner Asik Murah Meriah Di Kota Bogor

Bogor itu sudah seperti rumah kedua bagi saya dan suami sehingga kami selalu ingin mengunjungi kota hujan ini tiap tahun. Sabtu-Minggu kemarin saya dan suami berkesempatan main lagi ke kota ini. Ini sebenernya bukan holiday tapi lebih ke business trip karena kita ada klien di sana yang minta di foto pernikahannya. Biasanya kami ke Bogor make travel, tapi waktu itu kita milih make jasa kereta api karena klien kami nikahannya hari Minggu. Jadi kita punya banyak waktu buat main-main dulu, kulineran, dan nostalgia dengan Commuter Line Jabodetabek.

Meski kami berdua tinggal 4 tahun di Bogor, saya dari 2006-2010; kalo suami taun 2002 sampe 2007 dan di daerah yang berbeda, kami nggak pernah nyengaja buat kulineran yang ngehits di sana. Maklum, kami sama2 anak kuliahan yang gak pnya duit lebih buat makan yang “aneh2” selain makanan warteg dan gorengan. Sebagai pengobat rasa penasaran kuliner Bogor, kami akhirnya bela2in nyicip kuliner bogor. Nah ini yang bisa kita jamah dalam waktu setengah hari di sana. Continue reading

Mural Hunting #1: Woman Portraits – Bandung

5 tahun saya tinggal di Bandung (hampir 4 tahun numpang di rumah dinas mertua di kota dan sekarang di rumah sendiri, di Bandung Coret :p) membuat saya sering memperhatikan kondisi jalan dan arsitektur di Bandung. Memang sih yang saya liat kebanyakan ya itu-itu aja yaitu rute berangkat-pulang kerja dan beberapa – puluh – kali jalan menuju mall atau tempat makan yang ngehits se-Kota Bandung :D. Dari situ saya memperhatikan bahwa Bandung punya komunitas Mural yang cukup aktif bergerak. Abaikan dulu tentang ijin atau nggaknya mereka pada pemilik dinding yang mereka coret-coret, karena saya nggak tau.

Kata Wikipedia, Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.

Hal unik dari komunitas Mural di Bandung ini adalah mereka sering kali mengganti mural yang mereka buat di dinding tertentu dengan mural lainnya pada periode tertentu – yang hanya mereka yang tau kapan. Beberapa kali saya melihat mural yang dilukis dengan sangat cantik, konsepnya bagus dan dengan ukuran yang sangat besar. Tapi sayang saya cuman melihatnya tanpa mengabadikannya dengan kamera. Lalu mural itu hilang dan diganti dengan mural yang lain. Huhu.. sayang banget. Makanya sekarang saya jadi termotivasi untuk mengabadikan mural-mural kece di Kota Bandung. Dan mungkin saja di kota atau negara lain. Continue reading

Photo Story: Pembuat Gula Merah Tradisional Banyuwangi

Tiba di Kecamatan Pesanggrahan, alam Banyuwangi menyuguhi kami pemandangan berupa hamparan kebun kelapa di kanan dan kiri. Elf yang kami naiki berhenti di depan “pabrik” Gula Merah tradisional, tepatnya di wilayah perkebunan Sungai Lembu.

Pabrik Gula Merah Tampak Depan

Pabrik Gula Merah Tampak Depan

Pabrik yang kami datangi tak lebih dari gubuk tanpa dinding berukuran besar yang dapat menampung belasan set tungku dan pekerja. Masing-masing set tungku yang berbahan bakar kayu digawangi oleh satu keluarga yang bekerja dari pagi hingga sore. Tak ayal, ketika kami memasuki area pabrik, kami disambut dengan asap pembakaran yang tebal dan aroma gula yang manis.

Ibu Suparmi (40 tahun) yang bekerja di tungku dekat pintu masuk pabrik bercerita bahwa ia kini telah menjalani karir menjadi pembuat gula merah selama 14 tahun. Sebelum menetap di Pesanggrahan, ia pernah diajak oleh suaminya untuk tinggal di salah satu daerah di Kalimantan. Suaminya saat itu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Setelah beberapa tahun di sana, Suami Ibu Suparmi memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dan menjadi salah satu pekerja di perkebunan Sungai Lembu. Continue reading