Photo Story: Pembuat Gula Merah Tradisional Banyuwangi

Tiba di Kecamatan Pesanggrahan, alam Banyuwangi menyuguhi kami pemandangan berupa hamparan kebun kelapa di kanan dan kiri. Elf yang kami naiki berhenti di depan “pabrik” Gula Merah tradisional, tepatnya di wilayah perkebunan Sungai Lembu.

Pabrik Gula Merah Tampak Depan

Pabrik Gula Merah Tampak Depan

Pabrik yang kami datangi tak lebih dari gubuk tanpa dinding berukuran besar yang dapat menampung belasan set tungku dan pekerja. Masing-masing set tungku yang berbahan bakar kayu digawangi oleh satu keluarga yang bekerja dari pagi hingga sore. Tak ayal, ketika kami memasuki area pabrik, kami disambut dengan asap pembakaran yang tebal dan aroma gula yang manis.

Ibu Suparmi (40 tahun) yang bekerja di tungku dekat pintu masuk pabrik bercerita bahwa ia kini telah menjalani karir menjadi pembuat gula merah selama 14 tahun. Sebelum menetap di Pesanggrahan, ia pernah diajak oleh suaminya untuk tinggal di salah satu daerah di Kalimantan. Suaminya saat itu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Setelah beberapa tahun di sana, Suami Ibu Suparmi memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dan menjadi salah satu pekerja di perkebunan Sungai Lembu. Continue reading

Berburu Sunset di Pantai Pulau Merah-Banyuwangi

Perjalanan kami di Banyuwangi secara resmi sudah selesai ketika kami pulang dari Desa Kemiren. Tapi karena beberapa dari kami masih punya waktu luang (cutinya belum abis, yey!) maka kami putuskan untuk advance ke lokasi lain. Awalnya kami mau ke Taman Nasional Baluran tapi kabarnya tanggal 27 Maret lalu ada kunjungan Menteri, jadi Baluran ditutup untuk sementara. Hufft.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Selatan untuk mencari kitab suci ke Teluk Ijo/teluk Hijau/Green bay. Tapi di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk berbelok ke Pantai Pulau Merah saja. Alasannya karena ada salah satu dari kami yang memberi tahu bahwa di sekitar sini ada Pabrik Gula Merah tradisional yg rutenya lebih friendly jika kita ke Pulau Merah. Karena kami semua ingin memotret Human Interest lebih banyak, maka kami semua sepakat untuk mengubah keputusan, hehe. Continue reading

Mengintip Secuil Kehidupan Suku Osing Di Desa Adat Kemiren

suku osing (4)

tetap cantik di usia paruh baya dan tanpa make up

Setelah ngos-ngosan dari kawah Ijen, kami semuanya ke Masjid terdekat untuk bersih-bersih, istirahat sejenak dan makan. Awalnya kami akan langsung ke Baluran, tapi karena sudah terlalu siang (dan panas) jadi diputuskan kami mengunjungi Kampung Osing, suku asli Banyuwangi. Setelah berpetualang di pantai dan gunung serta serba-serbi kehidupan di kota, tak ada salahnya untuk mengintip Budaya di kota itu :D.

“Suku Osing ini adalah orang-orang dari Kerajaan Majapahit yang tinggal di Banyuwangi dan tidak ikut pindah ke Bali” kata teman saya waktu kami telah sampai di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Saya manggut-manggut berlagak ngerti padahal saya termasuk ke dalam kategori manusia yang tidak terlalu mudeng soal sejarah Indonesia. Ini secuil cerita ketika singgah sebentar di Desa Kemiren, sungguh cuman sebentar jadi cuman bisa cerita sedikit.

Tari Gandrung Continue reading

Akhirnya Tracking Di Kawah Ijen!

tim kawah ijen. yg sampai ke bawah cuman 3 perempuan dan 1 orang guide yg berkaus merah.

tim kawah ijen. yg sampai ke bawah cuman 3 perempuan dan 1 orang guide yg berkaus merah.

Hari Sabtu Pukul 1 dini hari kami sudah terjaga. Saya waktu itu sudah ingin melambaikan tangan ke kamera karena kami baru sampai di tempat transit kami saat ini beberapa jam yang lalu. Kami pun baru tidur mendekati pukul 12 malam. Praktis, badan kami masih berteriak ingin terus istirahat.

Meski begitu kami tetap bersiap, memasukkan semua barang2 kami ke elf dan menuju Paltidung, Basecamp sebelum kami naik menuju Kawah di Puncak Gunung Ijen. Perjalanan menuju Paltidung ternyata cukup lama, sekitar 1jam. Jadi kami masih bisa meneruskan tidur di dalam elf. Saya tidak merasakan apa-apa ketika elf naik turun bukit menuju Paltidung. Saya tidur. Pulas.

Meski perjalanan dijadwalkan pukul 2, nyatanya kami baru mulai bergerak bersama ratusan orang lain ke atas pukul 2.30 WIB. Suasana di Paltidung ini dingin, kontras sekali dengan keganasan matahari Banyuwangi yang sudah 2 hari ini kami rasakan. Tapi dinginnya masih belum menyamai “nyes”nya Dieng waktu saya dan teman2 The Rok Travelers (traveler perempuan yang selalu memakai rok panjang kemanapun) naik ke Gunung Prau. Saya waktu ke Kawah Ijen gak memakai sarung tangan dan masih merasakan hangat ketika tangan saya masukkan ke dalam jaket gunung yang saya pakai. Berbeda dengan ketika di Gunung Prau: meski saya sudah menggunakan sarung tangan berbahan polar yang hangat tapi tetap saja dingiiinn… Continue reading

3 Hal Yang Bisa Ditemui di Hutan Mangrove Blok Bedul, Taman Nasional Alas Purwo

selamat datang di blok bedul

selamat datang di Blok Bedul

Saya benar-benar blank soal Taman Nasional Alas Purwo, saya cuman tau Baluran. Titik. Apalagi soal Blok Bedul. Pernah denger aja nggak. Mungkin teman-teman juga merasakan hal yang sama. Iya kan? Kan? #maksa

Saya dan teman-teman saya waktu itu sampai di sana sudah pukul setengah 4 sore dan disambut dengan pohon mangrove plus tanah berpasir yang bersih. Kami lalu menuju dermaga dengan jalan kaki untuk menyeberang ke pulau sebelah. Nah, ternyata di blog bedul ini kami setidaknya bisa menemui 3 hal:

1. Jembatan Kayu dan Kepiting Bercapit Merah
blok bedul (3)Kami mengikuti jalan dan tak lama kami bertemu dengan jembatan kayu yang melintasi kawasan mangrove dan bangkai perahu. Di kanan-kiri kami bibit mangrove sedang tumbuh dan di setiap sentimeter tanah di bawah jembatan ada kilauan berwarna merah yang bergerak-gerak cepat. Setelah saya cek dan tengak-tengok apa itu yg warna merah ternyata itu kepiting kecil dengan capit berwarna merah. Uniknya capit berwarna mencolok itu berukuran sangat besar dibandingkan dengan capit yang lain. setelah aware dengan keberadaan kepiting ini, saya baru sadar ternyata sejak awal tadi ada ribuan kepiting ini yang berseliweran di bawah dan samping kanan kiri jembatan yang sedang kami tapaki bersama #asek Continue reading

Sensasi Kuliner Belalang Goreng

kepala belalang

kepala belalang

“Cobain aja….” Kata Pak Ruli yang lagi duduk-duduk cantik bareng dengan bapak-bapak yang lain di rumput pinggir jalan. Waktu itu kami sedang dalam perjalanan menuju Taman Nasional Alas Purwo. Karena hari sudah siang, kami melipir dulu di pinggir jalan untuk makan siang, Elf kami pun sudah parkir dengan cukup elegan di sisi jalan aspal yg lain.

Eh?
Saya waktu itu ragu-ragu campur excited dengan kuliner yang selama ini cuman saya baca di internet. Bungkusan plastik kecil yang diangsurkan oleh Pak Ruli saya ambil dan di dalamnya teronggok belalang yang telah digoreng garing. Sebagian besar sudah tak utuh lagi tubuhnya, saya memegang bagian kepala belalang dengan telunjuk dan jempol tangan kanan.

Makan nggak nih?
Teman-teman saya yg perempuan juga tampak ragu-ragu. Sebagiannya malah menggeleng keras-keras melihat onggokan snack siang hari saat itu. Saya liat bapak-bapak ngemilin belalang goreng ini sambil ngobrol-ngobrol, seolah-olah mereka lagi makan kuaci atau keripik kentang. Continue reading