Pengrajin Anyaman Bambu dan Mengintip TPI Muncar

ini yang lagi ngelilingin si bapak buat belajar motret. diajarin sama mentor masing2.

ini yang lagi ngelilingin si bapak buat belajar motret. diajarin sama mentor masing2.

Masih di Banyuwangi, pasca kunjungan ke Pantai Boom kami melanjutkan perjalanan ke Dusun Krajan, Desa Gintangan Kec. Rogojampi. Saya kurang tau berapa lama perjalanan krn saya tidur di dalam elf, mungkin sekitar 40-50 menit. Di sinilah tempat para pengrajin anyaman bambu tinggal dan berkarya. Kabarnya produk anyaman bambu dari sini telah diekspor sampai ke Benua Eropa. Tapi sayangnya yang ngirim itu bukan mereka, tapi pedagang-pedagang besar yang punya banyak modal dan pengalaman dalam pengiriman ke luar negeri. Pedagang-pedagang besar itu dimana coba? Di Bali! Heuheu Continue reading

Advertisements

Yang Unik di Pantai Boom – Banyuwangi, Jawa Timur

Surabaya, 24 Maret 2016
Pukul 14.30 WIB saya dan suami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dengan Kereta Sri Tanjung. Perjalanan kami semakin semarak karena kami kami bertemu dengan rombongan Gresik, Surabaya, Kuningan, Lampung, dan Jakarta. Memang rombongan kami tidak satu gerbong, tapi ketika tubuh berada di dalam satu rangkaian kereta kami masih merasa bersama-sama #ciee.  Emang ada apa sih rame2 ke sana? Well, kami bareng2 mau selebrasi ulang tahun ke-5 Komunitas fotografi kami yaitu tOekangpoto. Selebrasi yang kami adakan pun tidak lain dengan hunting foto bareng sekalian belajar dari para fotografer senior.

gabung sama orang Gresik, Surabaya, Kuningan, Lampung.

gabung sama orang Gresik, Surabaya, Kuningan, Lampung.

Surabaya-Banyuwangi ternyata harus ditempuh dengan 6 jam perjalanan dengan kursi ekonomi. Kebayang ya gimana salah tingkahnya kami di kursi itu waktu mau nyari posisi buat bobok. Untungnya saya ketolong sama bantal leher yang saya bawa jauh2 dari Bandung :p. Kami sampai di Stasiun Karang Asem sekitar pukul setengah 9 malam, setelah itu kami tidur di Kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi dg ditemani oleh suasana panas khas daerah pesisir. Maknyos rasanya :D Continue reading

Ranu Kumbolo #4 : Pulang

ranu kumbolo. sang telaga para pengembara.

ranu kumbolo. sang telaga para pengembara.

why Allah create something called “good bye” ?
maybe because we’ll remind better when we are separated.
-Hikari Azzahirah-

Malam kedua di bumi perkemahan yg sangat dingin. saya menggeretukkan gigi untuk menahan gigil dan juga perasaan pahit karena gagal masak nasi! saya tidak habis pikir bagaimana masak nasi yg sederhana ini bisa jadi gagal, padahal siang hari sebelumnya nasinya mateng2 aja. pffftt. =_=.

menyoal Makan. kami diwajibkan bawa makanan utk pribadi maupun kelompok. Nah, di tenda saya ada Mbak Nur dan Mbak Chana yang ketika kami semua bongkar keril di tenda, mereka membawa banyak banget makanan. saya sampe melotot ngeliatnya, sebut saja: rendang (2 plastik), bistik, ayam goreng (2 plastik), chicken stick, mie instant, kering tempe, bahkan mereka juga sempet beli rawon 3 plastik :)).  ini cuman maincourse ya…. belum yg snack dan berbagai macam minuman semacam energen dan coklat. dalam hati “tau gini gue gak usah bawa apa2 kemari. haha”. tapi saya bukannya gak bawa apa2 lho ya… saya bawa cukup banyak makanan: dari abon, sarden, mie instant, telur asin, dll. dan… semua makanan yang itu tidak ada yang dimakan. ngapain makan begituan klo ada bistik sama rendang? :)).

Makanan yg tinggal goreng2 dan angetin itu mempercepat proses makan-memakan dan setiap kali kita buka lapak buat makan, semua orang kita undang agar makanannya cepet abis. tapi tetep aja ya… ga abis2 ampe mau pulang. haha. ketika akan pulang, semua makanan yg tersisa kami berikan ke bapak2 yang jaga warung di Ranu Kumbolo. Continue reading

Ranu Kumbolo #3 : Danau, Tanjakan Cin(pret)ta, dan Oro-Oro Ombo

kabut tiba2 datang kembali. da emang sering beginih sih

kabut tiba2 datang kembali. da emang sering beginih sih

“Huwaaaa tikussss… ya ampun… astaghfirullah”

saya segera melonjak kaget dari tidur. Melihat Mbak Nur dan Mbak Chana yg sedang mencari2 hewan bernama tikus dengan mata mereka, saya segera melepaskan diri dari jerat Sleeping Bag. pelan2 mbak chana menyibak tumpukan barang di samping “bantal”nya dan sesuatu yang berekor berlari dengan sangat cepat dari pojok tenda ke pojok yg lain.
“ih iitu.. itu…”
“hii…”
teriakan histeris dari tenda perempuan sepertinya tidak mengganggu keheningan di pagi kala itu. -__-
“jijik banget tau gak sih, itu tikusnya lewat di muka guehhh” mbak nur tetap curcol sambil beres2 SB. saya yg masih loading dan ngumpulin nyawa cuman mesam mesem dengerin hal itu… Sembari Tangan sayah narik2 SB, tas kamera, sama benda2 semacam sarung tangan dan lain2 dari jejak kaki si tikus.

setelah dengan geli dan deg2an kami memeriksa semua benda di tenda sekitar 10 menit,… hewan itu hilang entah kemana doong…. capek deh. =__=. tapi saya berucap terima kasih kepada sang tikus karena berkat dia, saya bisa sholat subuh di waktu yg tepat. jam 4 lewat sekian. setelah itu, saya tidur lagi. hehe.  God, please forgive me. Continue reading

Ranu Kumbolo #2 : Pendakian

“Perjalanan ini bukan tentang pertunjukan kekuatan, tapi perjalanan dzikir pada Sang Maha Kuat” -Hikari Azzahirah-

DSC_0001

yg cewek2 make jeep warna orenz

Dari Tumpang Ke Ranu Pani
kami masih leyeh2 di sekitar Indomaret Tumpang sambil nungguin kru Jeep menyusun keril2 kami di atap mobil. peserta yg tercecer karena naek pesawat juga udah ngumpul, begitu juga rombongan dari jawa timur. ramee….. :D.  kami juga sempet poto2 di depan jeep, ga sempet ngitung berapa kali yg nyobain bermacam2 pose di jeep. sekitar jam setengah 12an, 3 jeep yg berwarna orenz, hijau, dan hitam itu berangkat menuju ranu pane atau klo di plang desa sih namanya ranu pani. ya terserahlah sama aja pan? :D

waktu itu saya memilih utk berdiri di belakang jeep karena pikir saya pasti mengasyikkan :)). ternyata benar… asik bgt di belakang itu. angin yg semribit, goncangan jeep yang semakin lama semakin aduhai. haha. sewaktu memasuki daerah pegunungan, kami mulai terguncang2 parah. tangan harus kuat menahan badan agar tidak terlempat ke luar jeep. serem juga sih ngeliat track yg dilalui sama jeep. ekstrim.

kami bersorak-sorai saat langit di atas kepala kami menjadi biruuu sebiru langit di pringsewu, kampung halaman sayah. dan teriakan histeris semakin membahana ketika jeep berada di atas kawah purba. masyaAllah… luar biasa… para penumpang lgsg pada heboh minta difotoin. saya sama kang dudi yg kebetulan bawa kamera di tangan masing2, berusaha sekuat tenaga buat motret di atas jeep.Yg ternyata… susah, sodara-sodara…. karena track jeepnya itu muterin gunung. jadi tangan kiri harus sekuat tenaga menstabilkan tubuh yg digoyang sama jeep. hasil fotonya banyak yg absurd :)). alhamdulillah semua jeep kompak berhenti di tengah2 kawah purba. kami turun sejenak dari jeep utk memotret landscape di kawah purba dan tentu saja poto bareng pasangan/keluarga masing2 (yg jomblo mah minta dipotoin sendiri #eh). setelah itu kami berangkat lagi. Continue reading

Got Mad In Suroboyo Carnival

abaikan jaket saya =))

abaikan jaket saya =))

Waktu saya ke Surabaya akhir bulan lalu, 27-28 Agsts, malam2nya saya diajak main di kota. Tapi yg ngajak main juga had no idea mau kemana. Waktu searching2 di internet muncullah nama Suroboyo Carnival. Kata Mbak Lusi dan Mbak erlis yang menjadi teman saya selama di Surabaya, “Kita juga gatau gimana bentuknya.. ga pernah kesana. Haha”

Lalu setelah sholat maghrib kami motoran ke lokasi dengan dagdigdug belalang kuncup, siap2 klo misalnya tempatnya mengecewakan, hehe. Waktu kami sampai di lokasi, bianglala adalah hal yg paling mencolok, karena dia yang paling tinggi dari yg lain. Wuaaa… pingin naik ituu… maklum, dari kecil ga pernah kesampean =)). tahan sih cuss… bentar lagi juga bakalan naek itu :p.

lampu2 di parkiran mobil

lampu2 di parkiran mobil

Sebelum masuk, kita beli tiket dulu. Harganya 35rb. Cukup uwow menurut saya. Tapi ya, daripada balik lagi, mending jalan terus aja. Tiket itu hanya tiket masuk ke lokasi pasar malam, karnaval, atau apalah itu namanya. Klo mau nyobain permainan yang lain harus bayar lagi. Ada juga sih yang gratisan, tp cuman sedikit yaitu Galeri Suroboyo. Ini adalah tempat pertama yang akan ditemui klo kamu masuk dg cara yg normal spt pengunjung yg lain. isinya adalah sejarah kota Surabaya, nama+foto walikota dari jaman gatau kapan sampe Ibuk Risma yg sekarang. Lalu ada ruangan yg isinya lukisan pahlawan Sby dan monitor yg muterin film sejarah. Di atas jendela kaca, ada tempelan kertas yg isinya adalah ungkapan2 khas Surabaya, yg sebagian besar adalah Bahasa yg cukup kasar. Kayak “aing-sia”nya Sunda, hehe. Continue reading