Kopi Darat Rasa Walimah

Setelah lulus kuliah dan bekerja, Kota Jakarta buat saya adalah kota meeting. Setiap kali ke sana pasti ada urusan meeting dengan mitra atau dengan rekan kerja yang lain. Tapi kemarin saya ke jakarta tanpa ada beban, kecuali tas selempang eiger warna hijau di bahu kanan saya. Rasanya seperti pengen bilang: “Ayeeeee….!!!!” *ga penting :P*

Hari sabtu kemarin memang istimewa buat saya, karena saya ke jakarta bareng *uhuk* suami saya ke salah satu tempat di jakarta (yang awalnya saya ga tau tempatnya di mana)lalu kalau sempat mau menghadiri nikahannya topenkkeren a.k.a. salmanrafan a.k.a om topan, hehe trus capcuss ke IBF. Agenda pertama itu perlu liputan khusus ya, saudara-saudara… jadi diskip aja dulu, langsung ke agenda kedua. Dan ngg… setelah dipikir2, ternyata masing2 session itu sepertinya perlu liputan khusus. Hahaha.. jadi kali ini saya nyeritain yang agenda ke nikahan om top itu saja dulu. saya kasih judul, kopi darat rasa walimah. mohon maaf klo rada2 ga nyambung sama isinya :p

*openingnya dua paragraf sendiri =..=*

Sekitar Jam setengah 11an waktu jakarta dan sekitranya, posisi kami (saya dan kakak) saat itu ada di belakang Lion Tower. Karena agenda utama kami udah selesai dan sukses, kami memutuskan utk pergi ke nikahan om top. Continue reading

Advertisements

Hadiah Terbaik Pernikahan Kami

Bismillah…

Tanggal 25 februari 2012, ia yang tadinya hanyalah kakak kelas, yang saya juga baru tau bahwa dia itu kakak kelas saya ketika ketemu di pernikahan kenalan saya, berubah status jadi suami saya. Dan pada titik terendah dalam 22 tahun hidup saya, dialah yang menemani saya tanpa ada keluhan. Hanya ada kata sabar dan sabar yang ia bisikkan di telinga saya saat air mata saya meleleh karena tak kuasa menahan sakit pasca operasi. Ia juga yang tak protes saya lempari bantal di tengah malam saat masih di rumah sakit, karena saya butuh bantuan untuk meraih segelas air yang jauh dari jangkauan tangan saya. Saya saat itu kehausan, tidak bisa tidur dan sedikit gerakan tubuh membuat saya merintih kesakitan karena luka operasi masih basah, sedangkan ia sudah terlelap karena lelah bolak-balik rumah-kantor-rumah sakit. Dan banyak lagi kesabaran yang ia punya untuk saya, saat saya benar-benar membutuhkannya.

Ia adalah hadiah dari Alloh di 9 bulan tahun ke 22 hidup saya, hadiah yang datang bersamaan dengan status pernikahan yang tersemat di jiwa saya, ruh saya.

Dan kini, satu tahun telah berlalu. 365 hari saya berlalu lalang di “rumah”: menjejaki ruang berfikir, sifat dan karakter, sikap dan perilaku dirinya. Sakit, lelah, sedih, bahagia, senyum dan tawa telah hadir beriringan saat menyesuaikan diri dengan berbagai macam perbedaan di antara kami.

Saya juga berlatih untuk merelakan ia pergi saat saya ingin dia ada di sini saja, di rumah saja. Satu-dua-atau 10 hari di luar kota tak jarang membuat saya manyun sendiri. Tapi toh saya akhirnya Continue reading

Iri Itu Hanya Masalah Sudut Pandang

lagi pengen nulis rada2 berbobot di blog ini, meski temanya tetep random. engg… ga yakin juga sih ini bakalan jadi berbobot atau nggak tulisannya. melihat track record menulis sayah yang kayaknya mandeg di tahap ngegeje. =,=
oke, lanjut.

sayah (kata saya selalu dibubuhi huruf “H” di belakangnya agar tidak terkesan sangat formal, red) pernah merasa iri dengan beberapa orang di kehidupan saya. dan jujur saja, iri ini pun kadang tidak termasuk ke dalam hal yang boleh diirikan di agama islam. =..=

  1. entah itu hanya perkara keliling eropa, sedangkan sayah masih bertengger di Indonesia, khususon kota Bandung.
  2. entah itu hanya perkara S2-S3, sedangkan sayah puas dengan S.Gz yang menempel erat di belakang nama sayah.
  3. atau sekedar jumlah anak yang ada di tengah-tengah keluarga, sedangkan saya masih berdua kemana-mana dengan suami.
  4. atau malah hanya sekedar keliling indonesia, yang lagi-lagi dibandingkan dengan kondisi pribadi yang masih stagnan di Bandung. paling hanya sekali ke Medan

hingga suatu ketika Continue reading