Cerita dari Sopir Taksi

kemarin pagi saya naik taksi dari Cikini ke Wahid Hasyim-Jakarta Pusat.

taksi yang saya pilih random saja, yang penting dia lewat di depan saya dan cukup terpercaya layanannya. dan yang lewat adalah Taksi E*press. tak menunggu lama saya langsung masuk ke dalam taksi dan menyebutkan lokasi tujuan saya

“Jl Wahid Hasyim no. 31 B, dekat Hotel Paragon”

Pak sopirnya bilang “iya”

saya kira selama sekitar 15 menit di taksi akan senyap tak ada suara. seperti taksi yang lalu-lalu.

tapi ternyata pak sopir taksi, yang belakangan saya ketahui namanya Suradi dari identitas driver di dashboard mobil, bercerita tentang kawasan Menteng yang sedang kami lewati. kata beliau, kawasan ini adalah kawasan elit, pajaknya yang tertinggi di indonesia. saya waktu itu hanya ngangguk2, ga iseng searching di gugel “daerah dengan pajak tertinggi di indonesia” =P. beliau juga menyebutkan kalau rumah di sini dan di situ nama pemiliknya siapa dan pangkatnya apa.

beliau ternyata telah ada di Menteng sejak lulus SD, tahun 78an. bayangin itu jamannya Pak Harto, yang setengah rupiah masih bisa buat jajan enak. beliau bekerja di berbagai rumah mewah yang ada di sana sebagai pembantu: beres2 rumah, nyuci mobil, ngepel. Petugas Teras, sebut Pak Suradi. maksudnya, beliau setelah selesai kerja langsung nongkrong di Teras sampai tuan rumahnya pulang. dan dari situlah mengalir cerita kehidupan beliau bekerja dari rumah mewah yang satu ke rumah mewah yang lain.

“ah, neng.. jangan kira ngikut sama orang kaya raya itu enak. sengsara…” Continue reading

Advertisements

Lensa Untuk Sang Fotografer

Bismillah…

Sebagai isteri saya ingin memberikan sesuatu untuk suami saya. Karena selama ini ia sudah memberikan banyak hal kepada saya: petualangan yang benar-benar baru buat saya dan kesabaran luar biasa saat saya tak berdaya =D. Namun hal ini bukan balas budi, hubungan suami isteri tidak ada hubungannya dengan itu. ikatan ini memberikan kami arti yang lebih luas dan lebih bernilai dibandingkan dengan “hanya” sebuah timbal balik membalas kebaikan.

Well, niat ini sudah saya miliki sejak tahun lalu saat ia bertambah usia menjadi 28 tahun. Waktu itu saya ingin memberikan sebuah lensa 50 mm untuk kameranya. Tapi karena uang saya tidak cukup, saya hanya bisa memberikan ban belakang baru untuk motor pulsar yang hampir selalu menyertai kami kemana pun kami pergi. Itu pun hasil gabungan dari uangnya dan uang saya. Selebihnya ditabung untuk keperluan yang lain. Selain itu, ia menyatakan tidak terlalu butuh dengan lensa fix itu. okey… =D

Saya sendiri masih belum puas memberikan kado untuknya, karena itu saya memutar otak dan mencari tau apa yang ia inginkan. Akhirnya menjelang tahun 2012 berakhir, kakak bilang kalau ia pengen punya lensa wide 12-24 mm. Saat itu saya ga ngerti secara jelas apa bedanya 12-24 mm dengan 80-200mm dan dengan lensa yang agak panjang di rumah. setau saya lensa wide itu ya buat ngambil gambar dengan range yang lebih lebar tapi gatau seberapa lebar =)) Continue reading

Kopi Darat Rasa Walimah

Setelah lulus kuliah dan bekerja, Kota Jakarta buat saya adalah kota meeting. Setiap kali ke sana pasti ada urusan meeting dengan mitra atau dengan rekan kerja yang lain. Tapi kemarin saya ke jakarta tanpa ada beban, kecuali tas selempang eiger warna hijau di bahu kanan saya. Rasanya seperti pengen bilang: “Ayeeeee….!!!!” *ga penting :P*

Hari sabtu kemarin memang istimewa buat saya, karena saya ke jakarta bareng *uhuk* suami saya ke salah satu tempat di jakarta (yang awalnya saya ga tau tempatnya di mana)lalu kalau sempat mau menghadiri nikahannya topenkkeren a.k.a. salmanrafan a.k.a om topan, hehe trus capcuss ke IBF. Agenda pertama itu perlu liputan khusus ya, saudara-saudara… jadi diskip aja dulu, langsung ke agenda kedua. Dan ngg… setelah dipikir2, ternyata masing2 session itu sepertinya perlu liputan khusus. Hahaha.. jadi kali ini saya nyeritain yang agenda ke nikahan om top itu saja dulu. saya kasih judul, kopi darat rasa walimah. mohon maaf klo rada2 ga nyambung sama isinya :p

*openingnya dua paragraf sendiri =..=*

Sekitar Jam setengah 11an waktu jakarta dan sekitranya, posisi kami (saya dan kakak) saat itu ada di belakang Lion Tower. Karena agenda utama kami udah selesai dan sukses, kami memutuskan utk pergi ke nikahan om top. Continue reading