Rumah Ideal itu….

my home is where you are #eaaak

my home is where you are #eaaak

konsep home atau rumah ideal buat saya itu sangat sederhana yaitu ga ada suara TV yang bikin telinga saya sakit dan jiwa saya stress.

saya memang orang yang cukup alergi dengan TV, TV Lokal terutama yg isinya hanya sampah dunia. padahal dulu, keluarga saya baru punya TV waktu saya SD sekitar kelas 4. dan saya lebih sering disuruh tidur siang meski saya ngotot buat nonton..eng.. amigos waktu SD atau SMP gitu… Harusnya sih saya haus akan dunia TV ya, tapi entahlah saya muak dengan TV. dan hubungan saya dengan TV itu tidak akrab hingga sekarang.

Beda banget sama si kakak yang masih TV Mania. baru nyampe rumah, duduk di sofa dan nyalain TV. padahal dianya masih ngotak-ngatik HP -___-“. sama persis sama adeknya yang perempuan. klo saya sih lebih milih ngeloyor ke kamar, mandi, abis itu selimutan di kamar. ngapain kek, baca buku, atau tidur2an, istirahat. oke, saya emang suka nonton criminal minds, law & order SVU, how do i look, clean house, tapi mereka ga tayang tiap hari. dan koleksi film di fox movies premium atau HBO lebih sering ngulang2. jadi saya lebih suka mengurung diri di kamar. semacam recharge energi setelah seharian dipakai di kantor. tipe introvert dan goldar B banget kan? :p

karena perbedaan itulah, sampe sekarang saya masih negosiasi ttg tidak adanya TV di rumah kami nanti. dan si kakak masih jadi anak alay, ababil gitulah ya… hari ini bilang “oke” minggu depan dia bilang “itu TV yg di rumah bakalan dikasiin ke kita klo pindah rumah nanti”
saya langsung bilang “kagak mau. ogah gue.”
si kakak cengar-cengir sambil bilang “bagus tauk”
saya: “bodoo… kakak milih TV atau nanti bakalan beli IMAC?” Continue reading

Advertisements

Catatan Perjalanan Bandung-Jakarta-Depok

Mari kita mencatat perjalanan lagii… Maap ya klo bosen :p

Jumat, 12 Sept 2014: Kopdar Indahnya Indonesiaku

Saya kembali berkunjung ke Jakarta, nengokin “anak” saya di kantor DEKAT Gramedia Matraman. Saya berangkat jam 5 pagi, sampai di kantor jam setengah 9. Di kantor, ngobrol, diskusi, ngasih masukan, dll. Sekitar ashar, saya menyudahi kunjungan dan langsung bertolak ke lokasi janjian sama teman hidup saya yaitu si kakak di Kantor Indosat deket Monas. saya ke sana dengan naik taksi, karena saya membawa daypack 28 Lnya Deuter yang sarat muatan dan pastinya sangat berat karena ada laptop 14 inchi beserta printilannya plus DSLR dan jangan lupa sama pakaian untuk 3 hari. Ga kebayang klo saya milih pake TJ jam segitu =.=.

Sebenarnya tujuan ketemuannya itu bukan ketemu sama si kakak sih, tapi lebih ke agenda Kopdar Indahnya Indonesiaku, haha. Sebuah gerakan bersama utk membangkitkan nasionalisme dengan mengumpulkan foto2 keindahan Indonesia dari ujung barat ke ujung timur. Sebuah gerakan kepedulian atas minimnya publikasi keindahan tanah air yang terstruktur di dunia maya. Websitenya di http://www.indahnyaindonesiaku.com . Jadi panjang gini ceritanya, hehe.

kopdar, difoto pake HP + flash. jadinya kayak beginih... :v

kopdar, difoto pake HP + flash. jadinya kayak beginih… :v

Tempatnya di Raya-Raya café & resto. Letaknya ada di gedung belakang indosat. Waktu sampai di sana, udah banyak yang ngumpul, kebanyakan para penikmat fotografi. Ada juga dari Tx Travel yang jadi sponsor acaranya. Ngiming2in buat main ke Derawan. Saya jadi inget sama si ninun yg lagi main air di sono. Cih.. kok pas banget momentumnya :p.

Dalam kesempatan itu, ada pak Teguh Sudarisman yg sharing ttg pengalaman beliau menjadi travel writer yang pastinya kebanyakan dari perjalanannya adalah gretongan. Keuntungan lain menjadi travel writer Kata beliau adalah “selama ini saya sangat mudah mengurus VISA utk perjalanan saya. Kalau utk orang2 biasa memang sering jadi susah…”

Kata2 yg terngiang dalam telinga saya adalah “orang2 biasa…” sakitnya tuh di sini… #eaaa Continue reading

Having Fun With The Liebster Award

liebster award

liebster award

sebelumnya saya mau sungkem dulu ke eka yang udah susah payah memilih saya dari begitu  banyak followernya #eaaa. tapi saya baru bisa nulis karena saya lupa bawa SD Card bwt modal postingan travelling saya ke Jogja. #eh

Liebster Award sendiri bertujuan untuk menjalin keakraban sesama komunitas blogger. Penghargaan ini didedikasikan kepada blog-blog yang mendukung blogger baru dengan harapan mendapatkan wawasan kedalam komunitas blogging.

Caranya:

  • Post award ke blog kamu
  • Sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini & link back ke blog dia
  • Share 11 hal tentang kamu
  • Jawab 11 pertanyaan yang diberikan padamu
  • Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang kamu inginkan

Oke, this is it…

Sebelas hal tentang saya

  1. Compliance and Steadiness menurut DISC Test

Yang menurut saya tidak sepenuhnya benar, sama halnya dengan tes psikologi yang lain yang saya ikuti. Tidak ada yang 100% menggambarkan saya. Benar saya itu Compliance (semacam Introvert gitu di Tes Personality Plus) tapi ya ga gitu2 amat. Saya sering kok bertingkah seperti Influence yang suka ngebanyol atau ketawa-ketiwi. Tapi juga bisa banget jadi orang Dominance, apalagi soal pekerjaan. Sabar ya anak2 gue di kantor

  1. Golongan Darah B, pernah donor darah 5x, kemudian hibernasi sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. *memandang sinis pada tensimeter dan HB meter*
  2. Perlahan-lahan menjaga jarak pada orang yang terasa terlalu dekat, meskipun ia perempuan.Saya seperti punya antena yang memberikan sinyal “it’s enough, cuss…” lalu saya secara otomatis bergerak mundur. Ini adalah sebuah zona aman pribadi yang tidak boleh dilintasi oleh siapapun. Kecuali sama si kakak tentu saja. Pppfffttt ….

Continue reading

After so Looonnng hibernation…

Hibernasi selama Februari-April ternyata kelamaan ya… :v

Banyak hal yang terjadi di masa itu dan mostly, aktivitas “singgah di rumah” yang makin ga sinkron Antara saya dan si kakak.

Yang satu di kantor, yg 1 di markas; Yang satu di kantor, yang 1 tidur di rumah

Yang satu di rumah, yang satu di markas; Yang satu di rumah, yang satu di kelurahan

Yang satu di rumah, yang satu keliling kelurahan

Alhamdulillahnya siklus ga sinkron itu sudah mulai kembali normal dua minggu lalu.

Meskipun nanti akan terjadi lagi di sekitar juni-juli. Ah, masih lama… (?)

inih yg namanya hotel horison, cus...

inih yg namanya hotel horison, cus…

Alhamdulillah lagi, waktu itu ada rejeki di malem minggu. Ya kali itu semacam reward buat si kakak. Gue mah ikut kecipratan aja.

Jadi ya pas abis maghrib itu saya masih jegang (ngerti ga duduk jegang itu kek gimana? :D) di depan TV, pindah channel puluhan kali dan akhirnya nongkrongin Fox Crime (like always.. -__-)

Sekitar jam 7 malam kurang sekian menit, si kakak tiba2 nanya “mau nginep di hotel ga, Dek?” dengan wajah yang masih nempel di iphone-nya yang (uhuk) baru berumur sekian minggu.

Saya bingung ini nanya basa-basi atau beneran?

Jadi saya cuman jawab “mau” sambil lalu. Dan si kakak masih cengar-cengir di depan henpon.

Apa deh si kakak… ngerjain gueh keknya. -___-

Lalu si kakak nanya lagi pertanyaan yg sama.

Saya ngangkat jari sambil bilang “maoo…” dengan muka masih nempel di TV

“Hotel mana emang? Ngapain? Di sana Moto?”  saya jadi gatel buat nanya dengan wajah menoleh ke belakang *hari gini… mana ada yang gratis kan di duniah? :D Continue reading

Lensa Untuk Sang Fotografer

Bismillah…

Sebagai isteri saya ingin memberikan sesuatu untuk suami saya. Karena selama ini ia sudah memberikan banyak hal kepada saya: petualangan yang benar-benar baru buat saya dan kesabaran luar biasa saat saya tak berdaya =D. Namun hal ini bukan balas budi, hubungan suami isteri tidak ada hubungannya dengan itu. ikatan ini memberikan kami arti yang lebih luas dan lebih bernilai dibandingkan dengan “hanya” sebuah timbal balik membalas kebaikan.

Well, niat ini sudah saya miliki sejak tahun lalu saat ia bertambah usia menjadi 28 tahun. Waktu itu saya ingin memberikan sebuah lensa 50 mm untuk kameranya. Tapi karena uang saya tidak cukup, saya hanya bisa memberikan ban belakang baru untuk motor pulsar yang hampir selalu menyertai kami kemana pun kami pergi. Itu pun hasil gabungan dari uangnya dan uang saya. Selebihnya ditabung untuk keperluan yang lain. Selain itu, ia menyatakan tidak terlalu butuh dengan lensa fix itu. okey… =D

Saya sendiri masih belum puas memberikan kado untuknya, karena itu saya memutar otak dan mencari tau apa yang ia inginkan. Akhirnya menjelang tahun 2012 berakhir, kakak bilang kalau ia pengen punya lensa wide 12-24 mm. Saat itu saya ga ngerti secara jelas apa bedanya 12-24 mm dengan 80-200mm dan dengan lensa yang agak panjang di rumah. setau saya lensa wide itu ya buat ngambil gambar dengan range yang lebih lebar tapi gatau seberapa lebar =)) Continue reading

Hadiah Terbaik Pernikahan Kami

Bismillah…

Tanggal 25 februari 2012, ia yang tadinya hanyalah kakak kelas, yang saya juga baru tau bahwa dia itu kakak kelas saya ketika ketemu di pernikahan kenalan saya, berubah status jadi suami saya. Dan pada titik terendah dalam 22 tahun hidup saya, dialah yang menemani saya tanpa ada keluhan. Hanya ada kata sabar dan sabar yang ia bisikkan di telinga saya saat air mata saya meleleh karena tak kuasa menahan sakit pasca operasi. Ia juga yang tak protes saya lempari bantal di tengah malam saat masih di rumah sakit, karena saya butuh bantuan untuk meraih segelas air yang jauh dari jangkauan tangan saya. Saya saat itu kehausan, tidak bisa tidur dan sedikit gerakan tubuh membuat saya merintih kesakitan karena luka operasi masih basah, sedangkan ia sudah terlelap karena lelah bolak-balik rumah-kantor-rumah sakit. Dan banyak lagi kesabaran yang ia punya untuk saya, saat saya benar-benar membutuhkannya.

Ia adalah hadiah dari Alloh di 9 bulan tahun ke 22 hidup saya, hadiah yang datang bersamaan dengan status pernikahan yang tersemat di jiwa saya, ruh saya.

Dan kini, satu tahun telah berlalu. 365 hari saya berlalu lalang di “rumah”: menjejaki ruang berfikir, sifat dan karakter, sikap dan perilaku dirinya. Sakit, lelah, sedih, bahagia, senyum dan tawa telah hadir beriringan saat menyesuaikan diri dengan berbagai macam perbedaan di antara kami.

Saya juga berlatih untuk merelakan ia pergi saat saya ingin dia ada di sini saja, di rumah saja. Satu-dua-atau 10 hari di luar kota tak jarang membuat saya manyun sendiri. Tapi toh saya akhirnya Continue reading