Menemui Morea, Si Belut Raksasa dari Ambon

Pernah membayangkan gak klo ada Belut segede ular phyton?
saya ga pernah ngebayangin sih, tiba2 aja saya ketemu sama gerombolan belut itu waktu saya ke Ambon beberapa waktu lalu.

Tepatnya di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Ambon. beberapa jam sebelum saya pulang ke Bandung. saya diajak oleh Ibu Dian, seorang ummahat yang setia dengan ambon meski berkali-kali terjadi kerusuhan hebat.
sekitar jam 12 kami sampai di sebuah kolam pemandian yang besar. terlihat beberapa orang sedang melakukan aktivitas khas desa seperti mandi, berenang, keramas, mencuci baju, dan, Wow, jernih sekali airnya. ketika saya menyusuri kolam hingga ke ujung, ternyata kolam ini airnya mengalir sehingga dapat dipastikan airnya akan terus jernih. dan di ujung kolam itu ada beberapa gerombol pohon sagu. yang sudah dimaklumi pohon itu adalah penanda sumber air. mirip-mirip sama pohon kurma di oase padang pasir kyknya ya…

untuk mengundang Morea aka Belut Raksasa ini, kita hanya perlu menyediakan bau amis darah. sehingga kami membeli ikan laut Rp 20.000,- ke penduduk di sekitar situ krn kami tidak menyiapkan sebelumnya. jadi kalau misalnya kita pengunjung bawa ikan sendiri itu tidak apa2. dan kami juga tidak dikenai biaya apa2 saat ke kolam tersebut. para penduduk sudah paham betul maksud dan tujuan para pengunjung. Continue reading

Advertisements

Catatan Perjalanan Bandung-Jakarta-Depok

Mari kita mencatat perjalanan lagii… Maap ya klo bosen :p

Jumat, 12 Sept 2014: Kopdar Indahnya Indonesiaku

Saya kembali berkunjung ke Jakarta, nengokin “anak” saya di kantor DEKAT Gramedia Matraman. Saya berangkat jam 5 pagi, sampai di kantor jam setengah 9. Di kantor, ngobrol, diskusi, ngasih masukan, dll. Sekitar ashar, saya menyudahi kunjungan dan langsung bertolak ke lokasi janjian sama teman hidup saya yaitu si kakak di Kantor Indosat deket Monas. saya ke sana dengan naik taksi, karena saya membawa daypack 28 Lnya Deuter yang sarat muatan dan pastinya sangat berat karena ada laptop 14 inchi beserta printilannya plus DSLR dan jangan lupa sama pakaian untuk 3 hari. Ga kebayang klo saya milih pake TJ jam segitu =.=.

Sebenarnya tujuan ketemuannya itu bukan ketemu sama si kakak sih, tapi lebih ke agenda Kopdar Indahnya Indonesiaku, haha. Sebuah gerakan bersama utk membangkitkan nasionalisme dengan mengumpulkan foto2 keindahan Indonesia dari ujung barat ke ujung timur. Sebuah gerakan kepedulian atas minimnya publikasi keindahan tanah air yang terstruktur di dunia maya. Websitenya di http://www.indahnyaindonesiaku.com . Jadi panjang gini ceritanya, hehe.

kopdar, difoto pake HP + flash. jadinya kayak beginih... :v

kopdar, difoto pake HP + flash. jadinya kayak beginih… :v

Tempatnya di Raya-Raya café & resto. Letaknya ada di gedung belakang indosat. Waktu sampai di sana, udah banyak yang ngumpul, kebanyakan para penikmat fotografi. Ada juga dari Tx Travel yang jadi sponsor acaranya. Ngiming2in buat main ke Derawan. Saya jadi inget sama si ninun yg lagi main air di sono. Cih.. kok pas banget momentumnya :p.

Dalam kesempatan itu, ada pak Teguh Sudarisman yg sharing ttg pengalaman beliau menjadi travel writer yang pastinya kebanyakan dari perjalanannya adalah gretongan. Keuntungan lain menjadi travel writer Kata beliau adalah “selama ini saya sangat mudah mengurus VISA utk perjalanan saya. Kalau utk orang2 biasa memang sering jadi susah…”

Kata2 yg terngiang dalam telinga saya adalah “orang2 biasa…” sakitnya tuh di sini… #eaaa Continue reading

Got Mad In Suroboyo Carnival

abaikan jaket saya =))

abaikan jaket saya =))

Waktu saya ke Surabaya akhir bulan lalu, 27-28 Agsts, malam2nya saya diajak main di kota. Tapi yg ngajak main juga had no idea mau kemana. Waktu searching2 di internet muncullah nama Suroboyo Carnival. Kata Mbak Lusi dan Mbak erlis yang menjadi teman saya selama di Surabaya, “Kita juga gatau gimana bentuknya.. ga pernah kesana. Haha”

Lalu setelah sholat maghrib kami motoran ke lokasi dengan dagdigdug belalang kuncup, siap2 klo misalnya tempatnya mengecewakan, hehe. Waktu kami sampai di lokasi, bianglala adalah hal yg paling mencolok, karena dia yang paling tinggi dari yg lain. Wuaaa… pingin naik ituu… maklum, dari kecil ga pernah kesampean =)). tahan sih cuss… bentar lagi juga bakalan naek itu :p.

lampu2 di parkiran mobil

lampu2 di parkiran mobil

Sebelum masuk, kita beli tiket dulu. Harganya 35rb. Cukup uwow menurut saya. Tapi ya, daripada balik lagi, mending jalan terus aja. Tiket itu hanya tiket masuk ke lokasi pasar malam, karnaval, atau apalah itu namanya. Klo mau nyobain permainan yang lain harus bayar lagi. Ada juga sih yang gratisan, tp cuman sedikit yaitu Galeri Suroboyo. Ini adalah tempat pertama yang akan ditemui klo kamu masuk dg cara yg normal spt pengunjung yg lain. isinya adalah sejarah kota Surabaya, nama+foto walikota dari jaman gatau kapan sampe Ibuk Risma yg sekarang. Lalu ada ruangan yg isinya lukisan pahlawan Sby dan monitor yg muterin film sejarah. Di atas jendela kaca, ada tempelan kertas yg isinya adalah ungkapan2 khas Surabaya, yg sebagian besar adalah Bahasa yg cukup kasar. Kayak “aing-sia”nya Sunda, hehe. Continue reading

The Rok Traveler(s)

the rok travellers gatau sapa yg motoin. lupa.

the rok travellers
gatau sapa yg motoin. lupa.

istilah ini resmi saya luncurkan di blog saya pada postingan inih.
saya mau membahas ini harapannya agar menjadi sebuah hastag/gerakan bersama. ya semacam The naked travelernya trinity, tp ini versi “islami”nya. wabil khusus, versi muslimahnya :p

The Rok Travelers adalah istilah yang saya dan beberapa orang teman saya gunakan untuk menyebut para perempuan petualang yang setia dengan rok panjangnya. petualangan ini tidak dibatasi dalam ranah apapun, mau naik gunung kek, motor2an kek, atau wisata laut atau para penikmat bus.

Hastag ini juga kami buat di instagram.

kalau ada yang sudi mengecek di explore-nya instagram, kalian akan mendapatkan beberapa foto yang berlatarbelakang gunung. ya, memang kosakata ini menjadi ilham saat saya menulis perjalanan saya dan teman2 saya di Gunung Manglayang. Oh God, cukup sudah saya nyicipin Manglayang. gamau lagii… XD

Kenapa ada huruf “s”nya?
karena saya yakin ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan perempuan pemberani di sana yang menggigit erat2 idealisme-nya dalam menutup aurat. Continue reading

Perjalanan Harga Diri Di Gunung Manglayang #2

visualisasi biar semangat muncak lagi :v

visualisasi biar semangat muncak lagi :v

Baru Bereum. 02.00 WIB

Saya udah bangun. Tapi bener2 pengen tidur lagi. Aduh, beneran kayak ga cukup tidur 2 jam. Yg lain juga kayaknya ngerasain yg sama karena jam segitu masih pada diem di sleeping bag masing2 meski saya yakin udah pada bangun. Ngantuk, pegelnya masih kerasa. Hehe.

Tapi kemudian kami beres2, sleeping bag digulung, semuanya dimasuk2in ke ransel masing2. Dan waktu kami keluar dari kemah, yg laki-laki malah berkurang 2 orang. Katanya lagi pada ke bawah, fufu. Yasudah, yg cewek2 melipir dulu buat membuang hajat. Perjalanan kyk gini tuh repotnya waktu pipis session *big grin*. Setelah menunggu, rapat soal rute naik ke puncak dan turun lagi, hingga makan roti sobek bekel dari indom*ret, sekitar jam 3 kami berangkat ke puncak. Semua ransel ditinggal, kami hanya bawa makanan-minuman sama kamera. Kemah ditungguin sama Cep Kiki yg kakinya masih kurang fit.

Perjalanan harga diri part #2 kembali dimulai…

Naik Ke Puncak Bayangan Manglayang

Track Manglayang yang digambarkan oleh para pendaki di blog2 mereka bukanlah gambaran omong kosong. Track-nya bener2 naik tajam sejak awal pendakian. Beneraaann… ini curamnya ‘alaihim banget.

Sesungguhnya ungkapan bahwa Manglayang sangat cocok untuk Pendaki Pemula adalah pernyataan yang sangat menyesatkan. Saya berada di garis terdepan untuk menyanggahnya! #eaaak. Memang tingginya cuman 1.818 mdpl, tapi tracknya bener2 bikin lupa cara napas lewat hidung. Continue reading