Akhirnya Tracking Di Kawah Ijen!

tim kawah ijen. yg sampai ke bawah cuman 3 perempuan dan 1 orang guide yg berkaus merah.

tim kawah ijen. yg sampai ke bawah cuman 3 perempuan dan 1 orang guide yg berkaus merah.

Hari Sabtu Pukul 1 dini hari kami sudah terjaga. Saya waktu itu sudah ingin melambaikan tangan ke kamera karena kami baru sampai di tempat transit kami saat ini beberapa jam yang lalu. Kami pun baru tidur mendekati pukul 12 malam. Praktis, badan kami masih berteriak ingin terus istirahat.

Meski begitu kami tetap bersiap, memasukkan semua barang2 kami ke elf dan menuju Paltidung, Basecamp sebelum kami naik menuju Kawah di Puncak Gunung Ijen. Perjalanan menuju Paltidung ternyata cukup lama, sekitar 1jam. Jadi kami masih bisa meneruskan tidur di dalam elf. Saya tidak merasakan apa-apa ketika elf naik turun bukit menuju Paltidung. Saya tidur. Pulas.

Meski perjalanan dijadwalkan pukul 2, nyatanya kami baru mulai bergerak bersama ratusan orang lain ke atas pukul 2.30 WIB. Suasana di Paltidung ini dingin, kontras sekali dengan keganasan matahari Banyuwangi yang sudah 2 hari ini kami rasakan. Tapi dinginnya masih belum menyamai “nyes”nya Dieng waktu saya dan teman2 The Rok Travelers (traveler perempuan yang selalu memakai rok panjang kemanapun) naik ke Gunung Prau. Saya waktu ke Kawah Ijen gak memakai sarung tangan dan masih merasakan hangat ketika tangan saya masukkan ke dalam jaket gunung yang saya pakai. Berbeda dengan ketika di Gunung Prau: meski saya sudah menggunakan sarung tangan berbahan polar yang hangat tapi tetap saja dingiiinn… Continue reading

Pengrajin Anyaman Bambu dan Mengintip TPI Muncar

ini yang lagi ngelilingin si bapak buat belajar motret. diajarin sama mentor masing2.

ini yang lagi ngelilingin si bapak buat belajar motret. diajarin sama mentor masing2.

Masih di Banyuwangi, pasca kunjungan ke Pantai Boom kami melanjutkan perjalanan ke Dusun Krajan, Desa Gintangan Kec. Rogojampi. Saya kurang tau berapa lama perjalanan krn saya tidur di dalam elf, mungkin sekitar 40-50 menit. Di sinilah tempat para pengrajin anyaman bambu tinggal dan berkarya. Kabarnya produk anyaman bambu dari sini telah diekspor sampai ke Benua Eropa. Tapi sayangnya yang ngirim itu bukan mereka, tapi pedagang-pedagang besar yang punya banyak modal dan pengalaman dalam pengiriman ke luar negeri. Pedagang-pedagang besar itu dimana coba? Di Bali! Heuheu Continue reading

Camping Ceria di Ranca Upas

camping ceriaaa

camping ceriaaa

Hari jumat malam, si kakak aka suami saya sudah warning bahwa besok kami akan pergi camping di Ranca Upas. saya tidak memiliki persepsi apa-apa tentang camping ground Rancaupas karena baru pertama kali mendengar nama itu dan… saya belum pernah camping di lahan yg dikelola swasta begitu secara saya baru 2 kali camping di gunung. saya hanya mengangguk-angguk dan meng-iya-kan. malam itu kami lalui dengan tidur tanpa mempersiapkan apapun untuk besok.

27 Desember 2014
pagi-pagi si kakak bilang bahwa Hilal dan keluarga serta Mbah Kiswo Keluarga tidak bisa berangkat jam 6 pagi. mereka baru bisa berangkat sekitar jam 8 lewat dari Jakarta. yasudah, waktu itu saya putuskan untuk mencuci baju dan menyetrika sebagian pakaian yang sudah kering 2 hari sebelumnya. jam setengah 9 pagi saya dan si kakak ke Pasar Baru kemudian mampir ke Rabbani Dipati Ukur utk membeli kerudung yg lagi di-diskon 50%. haha :p.

Pukul 11 siang, kami sampai di rumah dan ternyata peserta camping sudah sampai di rumah.
kami langsung buru2 beres2 pakaian setelah menyiapkan teh hangat utk mereka. sebelum kami menuju bumi perkemahan, kami mampir ke Borma utk membeli ransum makanan. Borma ini mirip dengan Griya Yog*a di kota-kota lain dengan harga yang relatif lebih murah. Nah, si Borma ini hanya bisa ditemukan di Bandung, Cimahi dan sekitarnya :D.

sekitar jam 1 lewat sekian menit kami memulai perjalanan ke Rancaupas yang letaknya ada setelah Kawah Putih. kami sengaja lewat Soreang dan tidak lewat jalan tol utk menghindari kemacetan yang pasti mengular setelah Gerbang Tol Pasir Koja. alhamdulillah perjalanan lancar, hanya beberapa kali tersendat karena ada pembetonan jalan di Jl. Nanjung Kab. Bandung Barat.

ternyata rancaupas ini ada di antara Kawah Putih dan Pemandian Air Panas Cimanggu. letaknya ada di sebelah kanan jalan dari arah kota Bandung. ada gerbang berbentuk pilar2 berwarna putih dengan tulisan RANCA UPAS di atasnya. tiket masuk camping ground saat itu, yang merupakan hari libur natal, adalah Rp 30.000,-/orang (15.000 tiket masuk, 15 rb utk biaya camping).

kesalahan pertama kami adalah tidak mempersiapkan tenda dari awal. Continue reading

Street Hunting: Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa

street hunters

street hunters

keinginan saya memang sederhana sekali…
saya hanya ingin hunting foto di Kota Tua-Jakarta sama si kakak yang statusnya suami saya itu. dan hal ini sudah muncul sejak sekitar 1 tahun lalu, dan alhamdulillahh… hari ahad tgl 7 desember saya kesampean juga main kesana.
saya gak berdua aja sama si kakak, tapi bareng dengan komunitas tOekangpoto (seperti biasaa…) yaitu Kang Dudi dan Sidqi, bang rushendra, yusuf dan indah. Continue reading

Ranu Kumbolo #4 : Pulang

ranu kumbolo. sang telaga para pengembara.

ranu kumbolo. sang telaga para pengembara.

why Allah create something called “good bye” ?
maybe because we’ll remind better when we are separated.
-Hikari Azzahirah-

Malam kedua di bumi perkemahan yg sangat dingin. saya menggeretukkan gigi untuk menahan gigil dan juga perasaan pahit karena gagal masak nasi! saya tidak habis pikir bagaimana masak nasi yg sederhana ini bisa jadi gagal, padahal siang hari sebelumnya nasinya mateng2 aja. pffftt. =_=.

menyoal Makan. kami diwajibkan bawa makanan utk pribadi maupun kelompok. Nah, di tenda saya ada Mbak Nur dan Mbak Chana yang ketika kami semua bongkar keril di tenda, mereka membawa banyak banget makanan. saya sampe melotot ngeliatnya, sebut saja: rendang (2 plastik), bistik, ayam goreng (2 plastik), chicken stick, mie instant, kering tempe, bahkan mereka juga sempet beli rawon 3 plastik :)).  ini cuman maincourse ya…. belum yg snack dan berbagai macam minuman semacam energen dan coklat. dalam hati “tau gini gue gak usah bawa apa2 kemari. haha”. tapi saya bukannya gak bawa apa2 lho ya… saya bawa cukup banyak makanan: dari abon, sarden, mie instant, telur asin, dll. dan… semua makanan yang itu tidak ada yang dimakan. ngapain makan begituan klo ada bistik sama rendang? :)).

Makanan yg tinggal goreng2 dan angetin itu mempercepat proses makan-memakan dan setiap kali kita buka lapak buat makan, semua orang kita undang agar makanannya cepet abis. tapi tetep aja ya… ga abis2 ampe mau pulang. haha. ketika akan pulang, semua makanan yg tersisa kami berikan ke bapak2 yang jaga warung di Ranu Kumbolo. Continue reading

Ranu Kumbolo #3 : Danau, Tanjakan Cin(pret)ta, dan Oro-Oro Ombo

kabut tiba2 datang kembali. da emang sering beginih sih

kabut tiba2 datang kembali. da emang sering beginih sih

“Huwaaaa tikussss… ya ampun… astaghfirullah”

saya segera melonjak kaget dari tidur. Melihat Mbak Nur dan Mbak Chana yg sedang mencari2 hewan bernama tikus dengan mata mereka, saya segera melepaskan diri dari jerat Sleeping Bag. pelan2 mbak chana menyibak tumpukan barang di samping “bantal”nya dan sesuatu yang berekor berlari dengan sangat cepat dari pojok tenda ke pojok yg lain.
“ih iitu.. itu…”
“hii…”
teriakan histeris dari tenda perempuan sepertinya tidak mengganggu keheningan di pagi kala itu. -__-
“jijik banget tau gak sih, itu tikusnya lewat di muka guehhh” mbak nur tetap curcol sambil beres2 SB. saya yg masih loading dan ngumpulin nyawa cuman mesam mesem dengerin hal itu… Sembari Tangan sayah narik2 SB, tas kamera, sama benda2 semacam sarung tangan dan lain2 dari jejak kaki si tikus.

setelah dengan geli dan deg2an kami memeriksa semua benda di tenda sekitar 10 menit,… hewan itu hilang entah kemana doong…. capek deh. =__=. tapi saya berucap terima kasih kepada sang tikus karena berkat dia, saya bisa sholat subuh di waktu yg tepat. jam 4 lewat sekian. setelah itu, saya tidur lagi. hehe.  God, please forgive me. Continue reading