Good Bye 25

hello world, i am officially 26 years old now *tabuh gendang*

iya, saya tau kok klo banyak yg gak percaya klo saya BARU DUA PULUH ENAM TAHUN. karena muka tua dewasa saya #aseekk *dikepret massal*.

alhamdulillah, di 25 tahun pertama hampir semua harapan saya terkabul, bahkan ditambah dengan banyak hal yg tidak disangka2.

di 25 tahun pertama ini pula, Allah memberikan tarbiyah yg luar biasa,
♥ tentang bagaimana menyikapi nikmat hidup tanpa berlebihan
♥ tentang menikmati ujian dan cobaan dariNya dalam diam dan sujud2 panjang
♥ tentang mengenal diri saya jauh lebih dalam,
♥tentang berdamai dengan diri dan kesalahan-kesalahan masa lalu
♥ tentang mempercayai takdirNya dengan sepenuh-penuhnya keimanan, seluas-luasnya kesabaran
♥ tentang bertahan pada komitmen
♥ tentang idealisme yg mahal harganya
*kibas jilbab*

saya, berterima kasih pula pada dia, suami saya.
yg selama 3 tahun, 2 bulan,
2 minggu dan 5 hari ini menemani, mendoakan, meneguhkan, dan mengokohkan pundak saya.
You are the Man, Beib.

Alhamdulillah bini’mati tatimmushshalihat ^^

image

lagi motret nikahan bareng si nikon D5200

kami di sela2 pemotretan

#EF19 The Way You Look At Me

I never have a boyfriend before I got married. So the most memorable relationship for me is what I have with Mr. Wicak, the one who have become my husband for more than 3 years :D.

One of many things that I still remember is how he proposed me on January 2012. Mihihihi. *ini kyknya bakalan jadi curcol -__-“* He with his family went from Bandung to Lampung and arrived in my home in the afternoon. I remember how our family made a long enough conversation about us and how he stole a glance to me who sat in a “separated” room. It was not totally separated, there was a door without it’s leaf between those room, hehe. Maybe he just made sure that my face didn’t change to a monster or so :v or to make sure the house he entered was right :p. From this sentence you knew that I also stole a glance because I also had to make sure that man was same with the one who told me would propose me :p *bahasanya ribet ya bok*. After 1-2 hours, and my family accepted his proposal (alhamdulillah ya.. :p), then he and his family went home.

And the memorable moment I clearly remember is Continue reading

cici dan angel

Eksplor Stone Garden, Padalarang-Bandung

Ada yang pernah denger Stone Garden? Atau malah udah pernah ke sana? Ini tempat wisata yg cukup melejit popularitasnya beberapa waktu ke belakang lho… :D. Sekarang saya mau kasih tau nih klo saya hari minggu kemarin main ke sana. Semoga bisa jadi referensi wisata yg murah di Bandung Raya :D. Stone Garden atau Taman Batu terletak di daerah Citatah, Padalarang. Disebut Stone Garden karena tempat wisata tersebut didominasi dengan batu-batu besar yang konon adalah peninggalan dari jaman megalitikum *sambil buka Wikipedia :p*.

Saya memutuskan datang ke Stone Garden sendirian karena si kakak masih di Jakarta dan temen2 yang diajakin tiba2 membatalkan *pelototin satu-satu*. Dari Kota Bandung ke Stone Garden saya menggunakan jasa Kereta KRD Ekonomi Bandung dengan rute Cicalengka-Padalarang karena lebih efisien dari waktu, biaya, dan tenaga daripada naek angkot. Bagi teman2 yg dari Jakarta atau kota2 lain, KRD ini melewati Stasiun Bandung kok. Jadi gampang banget ke stone garden :D. Harga tiket KRD ini paling mahal 4.000 – 5.000 perak. Saya sendiri ke Padalarang naik dari stasiun Cimindi (CMD). Jadwal kereta KRD Bandung 2015 ada di bawah ya ;) Continue reading

moto kaki, karena gak pede buat selfie :p
yg ini mah gak pake slowspeed

Me Time Di Alun-Alun Bandung

Sejak hari kamis kemarin, saya lagi jadi jomblo freelance karena suami lagi sibuk menjamu temannya yg datang dari Surabaya. Saya harus menanggung ‘beban’ ini sejak si kakak semakin serius dan ditunjuk jadi Pak Lurah (or president, chief, whatever u named it) di tOekangpoto, komunitas fotografinya. Tak ayal saya harus melipir berangkat-pulang ke kantor naik angkot. Waktu perjalanan yg hanya 25 menit dengan motor membengkak 3x lipatnya setiap naik angkutan umum ini. ditambah dengan ongkos sekali jalan yg bikin dompet meringis. 11-12 rb x 2 (pagi dan sore) dikali berapa hari aktivitas ini berulang. Klo diambil jumlah hari maksimal (22 Hari Kerja) itu bisa buat isi bensin si motor di Shell buat sebulan (anter-jemput kantor, keliling bandung, jengukin rumah yg belum bisa ditempatin dan lain-lain). kebayang kan gimana tidak efisiennya naek angkot? #okecukupsudahcurcolnya :p

Nah, waktu hari Kamis kemarin saya kebetulan bawa kamera ke kantor buat pemotretan sebuah project hasil kerjasama kantor saya dengan sebuah Bank di salah satu taman di Bandung, lumayan bisa kabur bentar dari belakang meja sampe jam 11 siang. Jadi waktu saya balik ke rumah, si kamera otomatis harus saya bawa. Ransel dan laptop 14 inchi yg lumayan berat saya tinggal saja di loker di kantor. Dan waktu itu saya langsung berinisiatif untuk mengambil rute angkot yg lain, yg biasanya naik angkot hijau St. Hall-Gedebage, saya ngambil angkot merah tujuan Cicadas-Elang (jalan dikit ke depan Trans Studio Mall).

Angkot ini melewati salah satu icon kota Bandung yang semakin ngehits beberapa bulan terakhir yaitu Alun-ALun Bandung :p, jadi saya langsung turun di samping alun-alun, dekat Yogya Kepatihan. Saya waktu itu memilih rute ini karena saya pikir alun-alun adalah tempat yang cocok untuk menjalani “Me Time” Continue reading

#EF18 Me And My Job

Complicated is a situation makes me a headache, difficult to decide what I want, and sometimes drive me to do nothing but being lazy :D.

Like what I told you last week, I have a job as social worker. And I have a complicated relationship with it. I tell you that I love my carrier as social worker, much. Because I work here, I can go to some places that I never imagined before. by working here, I am forced to be more grateful because I always read poor people’s pofiles and sometimes I meet them in person when I have an empowering visit to slum area. What I see there, it slapped me right in my face,

“Ncuss, you are lucky! You are blessed because you have a husband, a motorcycle to ride, a smartphone, DSLR, and beyond everything.. you are healthy and have a perfect body. How could you not be thankful for what you have?”
Yeah, I love what I am doing here. Continue reading

Gerakan Tanpa Setrika

Yang Lagi nge-Trend : Gerakan Tanpa Setrika

Mari kita bahas hal-hal kekinian di blog ini :p. Salah satu hal yang lagi nge-hits di dunia maya beberapa minggu terakhir adalah Gerakan Tanpa Setrika. Hal yang cukup menggelitik dan menarik untuk para anak kos, istri, dan ibu rumah tangga.

Sebenarnya sebelum mendengar gerakan ini, saya sudah menjalankannya dg sadar, yaitu waktu lagi males2nya nyetrika. Jadi kaos2 rumahan yang memang gak pernah keliatan sama orang lain, saya lipat rapi dan ditumpuk di lemari. Keesokan harinya, voila si kaos yg tadinya kusut jadi lumayan rapi. Hehe.

Oya, fyi, saya terlahir dalam keluarga yang menjunjung tinggi budaya eropa menyetrika sampai ke pakaian dalam :v. Ini bener lho,,, saya kalau ingat dg hal ini suka ketawa geli, hehe. semenjak saya jadi penghuni kosan yaitu jaman kuliah, maka saya semakin intens dengan kegiatan cuci-setrika. Bahkan dulu ketika kuliah, telapak tangan kanan saya sampai terkena alergi sabun/deterjen. It was totally horrible. Alhamdulillah alerginya hilang sendiri sekitar 1,5 tahun. Lama banget ya… :D. Ketika menikah, hubungan saya dengan cuci-setrika semakin akrab dan adegan panas setrikaan selalu mendistorsi waktu liburan atau istirahat saya. Heuheu.

Episode cuci-setrika ini bahkan pernah menjadi sebuah drama tersendiri dalam rumah tangga kami =)). Jadi suatu ketika saya sangat lelah secara fisik, pikiran, mental, dan emosi karena pekerjaan di kantor dan tentu saja rutinitas di rumah. Hal ini membuat saya sangat malas untuk cuci-setrika baju kotor yg telah menggunung. Ketika weekend datang dan saya memaksa diri untuk mencuci, maka problem terbesar muncul ketika cucian itu kering. Hahaha. Saat itu tenaga saya sudah terkuras habis sedangkan menyetrika adalah hal yang amat sangat menguras tenaga dan waktu. It’s different from laundry time karena kita harus menyetrika satu persatu pakaian =__=. Saya waktu itu sempat jadi desperate housewife karena ini dan dengan wajah memelas bilang sama suami saya:

“Aku gak mau nyetrika, kakaaakkk… capeekkk….” dan disambung dengan mewek. Continue reading

burung

FSKM #3 Wisata Murah Di Batu Caves

FSKM = Flashtrip Singapura-Kuala Lumpur-Melaka :p
***

Di hari kedua kami gak mandi dengan layak, cuman ngelap2 pake tisu basah. Meskipun katanya di TBS ini kita bisa mandi, tapi waktu saya ngeliat kamar mandinya saya jadi rada2 gak tega karena terlalu bersih, hehe. Jadi ya sudahlah, saya optimalkan tisu basah dan air pancuran buat wudhu, cuci muka dan gosok gigi :D. Kami sholat subuh dulu di musholla TBS jam 6 pagi, setelah itu langsung capcus ke Stasiun Bandar Tasik Selatan yang terhubung langsung dengan TBS. tinggal jalan kaki di jembatan yang mirip2 sama skywalk =D kira2 3-5 menit. Saat itu hari masih gelap meski sudah hampir jam setengah 7. Kami langsung ke loket untuk beli tiket kereta langsung ke Batu Caves dengan harga masing2 @ RM 2.4.

Kami langsung ke peron kereta dengan mengikuti petunjuk arah yang tertera dg jelas dan bergabung dengan calon penumpang yg lain. Di stasiun ini meski tidak “semewah” di Singapura, tetap ada fasilitas schedule board kereta sehingga kita tidak perlu bertanya2 kapan keretanya datang. Kereta waktu itu datang tepat pada pukul 06.29 waktu Kuala lumpur (tidak ada perbedaan waktu antara Singapura dan Malaysia). Kami transit dulu di stasiun KL sentral, lama perjalanan kira2 30 menit. Lalu kami lanjut ke kereta menuju Batu Caves dengan lama perjalanan kira2 10 menit. Setelah sampai di stasiun Batu Caves, si kakak “mandi”, ganti baju, dan mengganti sandal jepitnya dengan sepatu. Sedangkan saya mengisi botol air kami penuh2 di keran air di dekat toilet. Sayangnya air di stasiun Batu Caves ini rasanya kurang enak, berbeda sekali dengan yang kami ambil di Bandara Changi kemarin. Continue reading