3 Hal Yang Bisa Ditemui di Hutan Mangrove Blok Bedul, Taman Nasional Alas Purwo

selamat datang di blok bedul

selamat datang di Blok Bedul

Saya benar-benar blank soal Taman Nasional Alas Purwo, saya cuman tau Baluran. Titik. Apalagi soal Blok Bedul. Pernah denger aja nggak. Mungkin teman-teman juga merasakan hal yang sama. Iya kan? Kan? #maksa

Saya dan teman-teman saya waktu itu sampai di sana sudah pukul setengah 4 sore dan disambut dengan pohon mangrove plus tanah berpasir yang bersih. Kami lalu menuju dermaga dengan jalan kaki untuk menyeberang ke pulau sebelah. Nah, ternyata di blog bedul ini kami setidaknya bisa menemui 3 hal:

1. Jembatan Kayu dan Kepiting Bercapit Merah
blok bedul (3)Kami mengikuti jalan dan tak lama kami bertemu dengan jembatan kayu yang melintasi kawasan mangrove dan bangkai perahu. Di kanan-kiri kami bibit mangrove sedang tumbuh dan di setiap sentimeter tanah di bawah jembatan ada kilauan berwarna merah yang bergerak-gerak cepat. Setelah saya cek dan tengak-tengok apa itu yg warna merah ternyata itu kepiting kecil dengan capit berwarna merah. Uniknya capit berwarna mencolok itu berukuran sangat besar dibandingkan dengan capit yang lain. setelah aware dengan keberadaan kepiting ini, saya baru sadar ternyata sejak awal tadi ada ribuan kepiting ini yang berseliweran di bawah dan samping kanan kiri jembatan yang sedang kami tapaki bersama #asek Continue reading

Sensasi Kuliner Belalang Goreng

kepala belalang

kepala belalang

“Cobain aja….” Kata Pak Ruli yang lagi duduk-duduk cantik bareng dengan bapak-bapak yang lain di rumput pinggir jalan. Waktu itu kami sedang dalam perjalanan menuju Taman Nasional Alas Purwo. Karena hari sudah siang, kami melipir dulu di pinggir jalan untuk makan siang, Elf kami pun sudah parkir dengan cukup elegan di sisi jalan aspal yg lain.

Eh?
Saya waktu itu ragu-ragu campur excited dengan kuliner yang selama ini cuman saya baca di internet. Bungkusan plastik kecil yang diangsurkan oleh Pak Ruli saya ambil dan di dalamnya teronggok belalang yang telah digoreng garing. Sebagian besar sudah tak utuh lagi tubuhnya, saya memegang bagian kepala belalang dengan telunjuk dan jempol tangan kanan.

Makan nggak nih?
Teman-teman saya yg perempuan juga tampak ragu-ragu. Sebagiannya malah menggeleng keras-keras melihat onggokan snack siang hari saat itu. Saya liat bapak-bapak ngemilin belalang goreng ini sambil ngobrol-ngobrol, seolah-olah mereka lagi makan kuaci atau keripik kentang. Continue reading

Pengrajin Anyaman Bambu dan Mengintip TPI Muncar

ini yang lagi ngelilingin si bapak buat belajar motret. diajarin sama mentor masing2.

ini yang lagi ngelilingin si bapak buat belajar motret. diajarin sama mentor masing2.

Masih di Banyuwangi, pasca kunjungan ke Pantai Boom kami melanjutkan perjalanan ke Dusun Krajan, Desa Gintangan Kec. Rogojampi. Saya kurang tau berapa lama perjalanan krn saya tidur di dalam elf, mungkin sekitar 40-50 menit. Di sinilah tempat para pengrajin anyaman bambu tinggal dan berkarya. Kabarnya produk anyaman bambu dari sini telah diekspor sampai ke Benua Eropa. Tapi sayangnya yang ngirim itu bukan mereka, tapi pedagang-pedagang besar yang punya banyak modal dan pengalaman dalam pengiriman ke luar negeri. Pedagang-pedagang besar itu dimana coba? Di Bali! Heuheu Continue reading

Yang Unik di Pantai Boom – Banyuwangi, Jawa Timur

Surabaya, 24 Maret 2016
Pukul 14.30 WIB saya dan suami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dengan Kereta Sri Tanjung. Perjalanan kami semakin semarak karena kami kami bertemu dengan rombongan Gresik, Surabaya, Kuningan, Lampung, dan Jakarta. Memang rombongan kami tidak satu gerbong, tapi ketika tubuh berada di dalam satu rangkaian kereta kami masih merasa bersama-sama #ciee.  Emang ada apa sih rame2 ke sana? Well, kami bareng2 mau selebrasi ulang tahun ke-5 Komunitas fotografi kami yaitu tOekangpoto. Selebrasi yang kami adakan pun tidak lain dengan hunting foto bareng sekalian belajar dari para fotografer senior.

gabung sama orang Gresik, Surabaya, Kuningan, Lampung.

gabung sama orang Gresik, Surabaya, Kuningan, Lampung.

Surabaya-Banyuwangi ternyata harus ditempuh dengan 6 jam perjalanan dengan kursi ekonomi. Kebayang ya gimana salah tingkahnya kami di kursi itu waktu mau nyari posisi buat bobok. Untungnya saya ketolong sama bantal leher yang saya bawa jauh2 dari Bandung :p. Kami sampai di Stasiun Karang Asem sekitar pukul setengah 9 malam, setelah itu kami tidur di Kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi dg ditemani oleh suasana panas khas daerah pesisir. Maknyos rasanya :D Continue reading

Wisata Sejarah Di Monumen Kapal Selam Surabaya

24 Maret 2016.
Kereta Turangga yg saya dan suami naiki sampai di Stasiun Surabaya Gubeng 15 menit lebih awal dari jadwal yaitu pukul 8.15 wib. Kota ini hanya sebuah transit krn kami akan melanjutkan perjalanan kembali ke Banyuwangi pukul 14.30 WIB. Jeda waktu yg cukup lama ini membuat kami berinisiatif utk mengunjungi objek wisata di dekat stasiun. Apalagi kami akan bersua dg 2 orang lain dari Jakarta dan Kuningan di sana. Daripada bengong doang di stasiun kan?

image

Pilihan yg menarik di antara destinasi mall yg terserak di Surabaya dan dekat dg stasiun Gubeng hanya 1 yaitu Monumen Kapal Selam (Monkasel). Cara menuju Monkasel dari stasiun Gubeng itu sangat mudah dan murah: Continue reading

Boarding Pass ala PT KAI

Saya udah lama nggak menggunakan moda transportasi kereta api. Terakhir saya ambil rute jarak jauh waktu mau ke semeru, thn 2014. Jarak menengah itu waktu saya dan suami pulang dari wedding photoshoot di Bogor tahun lalu. Betapa jarangnya saya berinteraksi dg PT KAI… :mrgreen:

Nah, tgl 23 Maret 2016 (malam kamis) kemarin saya dan suami akhirnya kesampean main ke ujung pulau Jawa, tentu saja dg kereta. Kami naik KA Turangga BDG-SB, lalu melanjutkan perjalanan menuju stasiun Karangasem di Banyuwangi dengan KA Sritanjung pukul 14.00 hari Kamis.

Di stasiun Hall Bandung ini kami kenalan dg sistem Boarding Pass ala PT KAI. Saya sudah tau soal ini wkt nggak sengaja main ke stasiun buat janjian sama suami yg mw jemput beberapa minggu sebelumnya. Waktu itu saya terbengong2 krn loket customer service tiba2 hilang dan digantikan dg 4 komputer, alat scan barcode, dan printer dilengkapi dg tulisan Check in Counter besar-besar di atas. Wow, mirip di Bandara! :D

Saya lalu baca2 petunjuk boarding pass yg dicetak dg standing banner di sebelah check in counter itu. Intinya mah kita nggak perlu nyetak tiket lagi klo udh beli tiket via online atau di channel pembelian lainnya krn kita bs lgsg check in Continue reading

Menikmati 640 Anak Tangga Gunung Galunggung

ini sebenernya foto waktu kita balik. nggak ada foto wkt kita naek karena masih gelap gulita balabala :D

ini sebenernya foto waktu kita balik. nggak ada foto wkt kita naek karena masih gelap gulita balabala :D

Pukul 4 pagi mobil APV kami hasil minjem dari kantor sudah terparkir dengan rapi di kaki Gunung Galunggung. Perjalanan dari Kota Bandung ke Tasikmalaya hanya memakan waktu sekitar 3 jam, sudah termasuk mampir2 dan Tanya jalan. Kami bertujuh segera berhamburan ke kamar mandi karena sudah tak tahan menahan hajat dan ditambah udara dingin yang menusuk-nusuk tulang. Tujuh orang ini tak lain adalah saya dan suami beserta tim yang saya pimpin dan yang sering saya omel2in di kantor plus driver. Sesekali ngajak tim saya yang nampak kurang piknik ini untuk jalan-jalan bukanlah sebuah dosa bukan? :D

Sepagi itu ada satu warung yang masih beroperasi di kawasan parkir kendaraan dan sepertinya memang 24 jam melayani pelanggan sehingga para pengunjung Galunggung tak perlu khawatir dengan masalah perut. Tak lama ada satu mobil lain yang ikut parkir di sebelah mobil kami. Tampaknya mereka juga punya tujuan yang sama dengan kami. Well, ternyata hari Sabtu itu kami tidak sendirian di atas sana. Continue reading